Minggu, 10 November 2013

Jalan Jalan ke Makassar Day 5, Bantimurung Adventure

Sabtu, 13 Juli 2013

Rencana Hari Ini : Check Out Hotel, Bantimurung, Bandara Hasanuddin.

Setelah sarapan pagi, waktunya untuk Check Out. Setelah berkemas dan check out hotel, kami menuju tempat wisata air terjun Bantimurung.

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung ini terletak di Kabupaten Maros. Dari Makasar perjalanan kurang lebih  1 jam.
Taman nasional ini ditunjuk menjadi kawasan konservasi atau taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan. Saat ini dikelola oleh Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, yang berkedudukan di kecamatan Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan.

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly atau kerajaan kupu-kupu. Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies termasuk kupu-kupu.
Bantimurung, Maros, Makassar
Air terjun, pintu masuk Bantimurung dan danau yang airnya berwarna kehijauan

Taman Nasional ini memang menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Menurut Wallace  di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu. Lokasi wisata ini juga memeliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus. Kedua gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi.
Selain di kawasan Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai macam lokasi ekowisata yang menarik. Di sana terdapat lebih dari 80 Gua alam dan Gua prasejarah yang tersebar di kawasan karst TN Bantimurung-Bulusaraung. (diambil dari Wikipedia)

Sesampai di Lokasi Taman Nasional Bantimurung, terlihat banyak penjual Souvenir kupu-kupu baik berupa bros, gantungan kunci dan pajangan lainnya. Kami membeli tiket masuk Rp 15.000,-per orang. Dengan ditemani seorang guide, kami menuju ke Air terjun Bantimurung yang ternyata tidak jauh dari pintu masuknya.

Dari Air Terjun kami menuju ke Gua Batu dengan menaiki jalan setapak di sebelah kiri air terjunnya. Pemandangan bagus sekali karena kami bisa melihat darimana asal air terjunnya dan tidak jauh kami berjalan terdapat Danau Toalaka  yang banyak kami temukan kupu-kupu yang beterbangan.
Danu Tokalaka dan kupu-kupu serta
pemandangan di jalan setapak yang masih seperti hutan
Sesampai di Goa, kami disarankan untuk meminjam Lampu Petromax  karena di dalam dapat melihat lebih jelas stalagtit dan stalagmit serta kelelawar yang ada di dalam goa.

Pada dinding dalam goa terdapat sebuah tempat berupa cekungan yang dipercaya bisa memperlancar jodoh. Pengunjung yang percaya dengan hal seperti ini biasanya akan membawa pasangan yang ingin dinikahi, lalu bersama-sama naik ke cekungan untuk memanjatkan doa. Di sudut goa ada juga sebuah tempat yang katanya sebagai tempat bertapa raja Bantimurung. Lalu ada sumber air tawar berkhasiat yang konon jika digunakan membasuh muka akan membuat awet muda.
Bantimurung
Bersama rombongan di dalam Gua Batu
Dari Goa Batu kami menuju ke Museum Kupu-Kupu yang terletak di dekat pintu masuk taman wisata. Di tempat ini terdapat penangkaran kupu-kupu dan di Museumnya kami bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu yang telah diawetkan.

Ini dia Tour Guide kami, Bapak ...

Di sebelah museum terdapat penangkaran kupu-kupu di kurungan berbentuk rumah seperti di bawah ini :

Bantimurung

Kami juga sempat membeli beberapa souvenir Kupu-kupu berupa gantungan kunci yang bagus-bagus.

Seharusnya masih banyak tempat wisata di Bantimurung yang dapat kita kunjungi seperti Goa Mimpi dan Goa Leang-Leang, Maros yang letak nya tidak jauh dari TN Bantimurung ini tapi karena waktunya tidak cukup.  Jam 1 siang kami menuju Bandara untuk terbang kembali ke Surabaya.


Sabtu, 09 November 2013

Jalan Jalan ke Makassar Day 4, Menjelajahi Pantai, Balla Lompoa dan Bird Park

Jumat, 12 Juli 2013

Jadwal Hari ini : Pantai Galesong Utara, Balla Lompoa, Taman Miniatur, Bird Park, Pantai Losari

Hari ini rencananya Wisata Pantai. Pagi-pagi Anak-anak dan Ketua Rombongan diajak ke Wisata Pantai di Pantai Galesong Utara. Sisa pasukan masih tertinggal di Hotel karena mobilnya cuma ada 1. Sambil menunggu rental mobil yang satu lagi,  kami membeli Bakpao dan Siomay di Jalan Ranggong Dekat hotel untuk bekal. Siomaynya Recomended enak sekali.

Setelah Rombongan I sampai di Wisata Pantai, mereka laporan kalau Wisata Pantainya tidak memuaskan, tidak ada pesisir pantai dan hanya ada permainan Outbond untuk anak-anak dan kolam renang anak. Tiket Masuk Wisata Pantai Galesong Utara adalah Rp 30.000/ org dan untuk permainan harus bayar lagi. Akhirnya kami memutuskan Rombongan kedua ganti tujuan.

pantai galesong utara
Pantai Galesong Utrara

Pantainya tidak bisa seberapa dinikmati, karena sangat dekat dengan jalan yang sudah dipaving. Garis pantai mungkin hanya sekitar 1 meter-an. Akhirnya anak-anak pun main di tempat outbound. Ada jembatan tali dan tempat panjat-panjatan. Juga bisa sewa ATV
Si kecil naik ATV, kolam renang,
jembatan tali dan mainan panjat2an
Setelah mobil ke dua datang, kami menuju ke Balla Lompoa Gowa. Perjalanan ke Gowa  sekitar 1 jam dari Makasar.
Balla Lompoa
(image credit : google)
Tempat Bersejarah ISTANA Kerajaan Gowa Makassar yang Berkedudukan Di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan sekarang telah Menjadi Museum peninggalan Kerajaan Makassar GOWA Sulawesi Selatan ( Disampingnya Dibangun Duplikat Istana Tamalate merujuk pada ukuran aslinya di zaman lampau )

Kompleks Kerajaan Gowa ini tepat berada di pusat Ibu Kota Kabupaten Gowa, Sungguminasa, Bangunan itu berbentuk rumah panggung. Warnanya coklat tua, seluruhnya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Tampak jelas usia bangunan ini tak lagi muda. Luas komplek adalah 1 hektare dan dikelilingi tembok tinggi.

Balla Lompoa adalah istana asli Kerajaan Gowa. Balla Lompoa dalam bahasa Makassar rumah besar atau rumah kebesaran. Fungsi Balla Lompoa adalah museum yang menyimpan simbol-simbol kerajaan, seperti mahkota, senjata, payung raja, pakaian, bendera kebesaran, serta barang-barang lainnya termasuk sejumlah naskah dari  lontar. (diambil dari Wikipedia)

Sempat Sewa Baju adat Rp 30.000,- dan beli kain tenun.


Setelah puas keliling Balla Lompoa, kami menuju ke Taman Miniatur Sulawesi Selatan di Gowa. Sampai disana ternyata Taman Mininya tidak terawat dengan baik. Terlihat kumuh dan kotor. Rumput-rumput tumbuh liar dan tidak dipotong.

Seharusnya konsepnya baik, menampilkan 27 rumah tradisional yang mewakili arsitektur dan  budaya yang ada di Sulawesi Selatan yaitu Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Tetapi kenyataannya rumahnya banyak yang sudah reyot dan banyak jemuran baju di sekelilingnya. Wah menyedihkan sekali Wisata seperti ini tidak dikembangkan dengan baik, padahal di kompleks itu juga ada Kantor Pemerintahan yang  mengelola Taman tersebut. Keponakan saya yang ada di Jakarta bilang mending ke Taman Mini Indonesia Indah dong.

Sementara Rombongan Pertama selesai dari Wisata Pantai, mereka langsung menuju ke Taman Miniatur ini. Karena tidak ada yang menarik, Akhirnya kami menuju ke Water Park dan Bird Park yang dekat sekali dengan lokasi Taman Miniatur ini. Karena hari itu hari Jumat kami harus menunggu petugasnya selesai jumatan baru bisa masuk lokasi wisatanya. Sebagian rombongan memutuskan kembali ke Makassar karena Keluarga Adik dari Jakarta harus kembali ke Jakarta pada hari itu. Kami memutuskan main di Bird Parknya. Tiket Masuknya Rp 25.000,- /orang. Bird Parknya bagus, ada banyak jenis burung dan ada burung yang tidak di dalam kandang, untuk diberi makan atau berfoto.

Banyak jenis burung di bird park ini

Warna Warni

Dari Bird Park, kami kembali ke Makasar. Makan siang di Nyuk Nyang di Kios Irian jalan Lombok. Nyuk Nyang itu sama dengan bakwan kalau di Surabaya menurut saya. Kayaknya enakan Bakwan di Surabaya deh he ..he he

Setelah makan siang, anak-anak renang di Kolam Renang Hotel. Kolam Renangnya terletak di Lantai 15. Di kolam renang ada fasilitas Jacuzzi dan Sauna sehingga nyaman dan View kota Makasar terlihat dari pinggir kolam renang yang ditutup dengan kaca tebal.

Sorenya kami ke Pantai Losari, foto 2 sebentar. Di sana hanya ada lapangan saja dan nggak ada tepi pantai jadi nggak bisa jalan2 tepi pantai, yang ada kita bisa wisata naik kapal kecil keliling pantainya.
Makan Malam kami kali ini di Ayam Goreng di jl Sulawesi. Wah enak sekali. Selain ayam goreng juga ada sup jagung yang sama enaknya


Memang Makassar cocoknya untuk wisata kuliner deh. :)

Jumat, 01 November 2013

Jalan Jalan ke Makassar Day 3, Full Day di Trans Studio dan Sensasi Sup Konro

Kamis, 11 Juli 2013

Jadwal Hari ini : Full Day di Trans Studio, Makan Sup Konro di Karebosi, Beli Oleh-Oleh Di Somba Opu

Setelah sarapan, sekitar jam 10.00 kami menuju ke Trans Studio Mall. Mallnya megah dengan pelataran yang luas. Tempat bermain Trans Studio ada di dalam Mallnya. Anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain disana. Rombongan dibagi dua lagi : yang mau masuk ke Trans Studio dan sisanya jalan-jalan di mall dan wisata kuliner.

Di foto bawah, adalah foto rombongan yang ke trans studio, di mana anggotanya kebanyakan masih muda2, termasuk yang punya blog :p dan bianglala yang cukup besar serta pemandangan dari atas biang lala tersebut. Selain itu kami juga masuk ke Dunia Lain yang merupakan rumah hantu yang memakai kereta untuk keliling.

 Ada juga roller coaster di Trans Studio Makassar. Seru banget kelihatannya, anak2 sampai bolak-balik naik roller coaster ini .

Permainan-permainan di Theme Park ini cukup banyak, mulai dari mainan anak2 seperti carousel sampai yang ekstrim seperti foto di bawah sebelah kanan atas, saya lupa namanya apa yang jelas pasti mengocok perut orang-orang yang naik.


Kemudian ada Rimba Ekspress, kereta anak2 dan Show yang menghibur yang bercerita tentang Bolywood. Tapi ada beberapa joke yang hanya orang Makassar yang tahu. Dan juga ada maskot-maskot serta orang-orang berkostum yang bisa untuk foto2 :D

Karena ingin makanan khas Makassar, maka sepulang dari Trans Studio kami makan malam Sup Konro di Karebosi. Sisa Rombongan minta makan malam di Surya Restaurant Di jalan Nusa kambangan yang terkenal masakan kepitingnya.

Ini Review dari Sup Konro Karebosi menurut saya:
Tempatnya agak jorok, penuh dengan tissue yang berserakan di bawah meja dan mejanya tidak dilap bersih sehingga lengket2. Tapi memang ramai sekali dan banyak orang yang merokok. Melihat tempatnya, anak-anak sudah nggak mau makan di sana. Tapi karena mau mencoba akhirnya kami memesan 1 Konro Bakar dan 1 Sup Konro. Setelah dihidangkan, saya minta anak-anak untuk mencobanya, ternyata anak-anak suka. Walaupun kuahnya lebih gelap daripada sup buntut, tapi memang enak. Dagingnya empuk dan bumbunya meresap. Makanannya pun tidak sempat difoto  karena sudah lapar semua.

Ini dia tempat makan Sup Konro Karebosi
sumber : google

Setelah makan, acara dilanjutkan dengan mencari oleh-oleh. Pusat Oleh2 yang terkenal terletak di jalan Somba Opu. Sepanjang jalan di Jalan Somba Opu itu banyak toko yang berjualan souvenir dan oleh-oleh mulai dari kain tenun, dompet dari kain, hiasan kupu-kupu, minyak tawon yang terkenal, sampai oleh-oleh makanan khas Makasar : Markisa dalam botol, kacang disco dll. Karena kami datang malam hari banyak toko yang sudah tutup.

Pulangnya kami dibelikan Pisang Epe oleh teman adik saya. Ternyata Pisang Epe itu Pisang Goreng yang dicelupkan ke gula merah. Cukup enak rasanya.

Minggu, 27 Oktober 2013

Jalan Jalan ke Makassar Day 2, Mengunjungi Malino

Rabu, 10 Juli 2013
Jadwal Hari ini : MALINO

Setelah Breakfast, kami menunggu mobil sewaan kami untuk menuju ke Malino. Kami sewa 2 mobil tapi 1 mobil nggak datang-datang. Sambil menunggu dan karena hari ini permulaan puasa serta banyak depot dan rumah makan yang tutup, Adik keluar hotel dulu untuk membeli Pangsit Mie dan Resoles untuk bekal perjalanan dan makan siang kami. Sempat sewot karena mobilnya nggak datang2,  pukul 10.00 barulah mobil ke 2 datang. Berangkatlah Rombongan kami ke Malino.

Malino adalah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Perjalanan dari kota Makassar menuju daerah ini memakan waktu sekitar 3 jam.

Sepanjang perjalanan menuju Malino kami melewati gunung-gunung dengan pemandangan batu gamping dan pinus. Berbagai jenis tanaman tropis yang indah, tumbuh dan berkembang di kota yang dingin ini. Selain itu, Malino pun menghasilkan buah-buahan dan sayuran khas yang tumbuh di lereng gunung Bawakaraeng.

Tujuan pertama kami  Air Terjun Tokapala

Setelah mobil kami melewati jalan yang berbatu dan berkelok-kelok, akhirnya sampai juga kami di Air Terjun Tokapala. Air Terjunnya dekat dengan perumahan penduduk dan kami cukup berjalan 10 menit menaiki tangga.


air terjun tokapala, makassar
Air terjun Tokapala, dari jauh dan dekat



Setelah puas menikmati Air Terjun dan berfoto. Kami bergegas kembali karena hujan cukup deras.
Kami berteduh di Penginapan penduduk yang lagi sepi karena hari puasa. Makan siang sebentar di teras rumah penduduk.

Setelah makan siang dan cuaca cukup terang, kami menuju ke Malino Highland Resort. Malino Highland Resort ini adalah Tempat Wisata sekaligus Resort untuk mereka yang akan bermalam di Malino. Jika tidak bermalam disana, Tiket Masuknya cukup mahal Rp 50.000,- per orang. Karena tidak semua rombongan besar kami mau masuk ke Resort maka rombongan dibagi 2.

Rombongan Pertama terdiri dari anak-anak dan remaja serta 1 orang Kepala Suku (yang di pilih dari hasil voting ha ha ha..) bermain di Malino Highland Resort.

Rombongan Kedua terdiri orang dewasa menuju tempat ngopi dan ke pasar membeli oleh2

Rombongan Pertama
Karena Hari ini masih permulaan puasa dan bukan Weekend, maka Malino Highland Resort sepi sekali. Jadi rombongan pertama keliling Malino Highland dengan mobil. Pemberhentian pertama di kebun teh. Kebun tehnya sangat luas dan bagus buat foto-foto. Udara sejuk dan pemandangan nan indah.

Kebun teh yang sangat luaass dan hijau

Kemudian anak-anak menuju ke kandang kuda, ada banyak kuda gede-gede yang masing-masing diberi nama. Anak-anak pun segera naik kuda, bayar Rp. 25000,- untuk satu kuda.
Naik kuda dan kandang kuda2

Setelah puas naik kuda, perjalanan dilanjutkan dengan mobil ke mini zoo. Mini Zoo-nya memang benar-benar mini, karena hanya ada monyet dan binatang yang ekornya panjang(rakun kali ya?). Sebenarnya ada lagi tempat yang ada burung-burungnya, tetapi tidak bisa masuk, karena terkunci. Perjalanan dilanjutkan ke Air terjun kecil. Kami berjalan sekitar 10 menit menuruni tangga, dan jalan setapak yang sudah diaspal, begitu dekat air terjunnya kami memutuskan untuk tidak meneruskan karena ya memang kecil sesuai namanya, bagusan yang di Tokapala. Merasa tidak mau rugi, kami mau mengunjungi Green housenya, tapi tidak jadi karena ada yang sudah mau balik ke hotel.
Meskipun tidak jadi ke air terjun kecil, tapi banyak
bunga-bunga yang bagus di sepanjang perjalanan

Rombongan kedua mencari tempat untuk menunggu. Tidak jauh dari Malino Highland Resort ada Tempat bermain Anak serta ada depot kecil yang buka. Kami singgah disana sambil menikmati hawa dingin, minum kopi dan makan camilan serta melihat beberapa anak bermain di taman bermain.

Setelah itu kami menuju ke pasar untuk mencari oleh-oleh khas Malino. Di pasar banyak kami temui buah khas Malino seperti markisa, pisang, tomat dan lain-lain. Dan Oleh-oleh yang bisa dibawa pulang seperti : gula aren, gula kacang, dodol, kacang garing dan lain-lain.

Karena Rombongan pertama sudah selesai, maka kami bergabung dan janjian ketemu di pasar.

Dalam perjalanan, kami sempat mampir melihat para tentara TNI Angkatan Darat sedang berlatih Perang dengan membawa senjata. Anak-anak senang melihatnya. Ternyata menjadi tentara tidak mudah. Menurut Dokter Tentara yang kami temui, meskipun mereka sedang puasa, mereka harus latihan berat dari pagi sampai sore hari tiap hari. Dan yang tidak kuat dengan latihannya, kadang ada yang sakit atau melarikan diri dari Campnya.
Ayo cari di mana tentaranya?

Nah, yang ini lebih kelihatan tentaranya :)
Tak terasa kabut mulai turun di Malino, Jam 4 sore kami kembali ke Makasar.
Sesampai di Makasar, kami menuju Restaurant Chinese Food (lupa namanya). Tempatnya tidak besar dan kelihatan tidak terawat tapi pengunjungnya banyak sekali. Makanannya cukup enak.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Jalan Jalan ke Makassar Day 1, Makan Seafood

Keberangkatan ke Makasar berjalan lancar. Pesawat berangkat Pukul 16.40 dan sampai di Makasar pukul 19.10. Bandara Hassanuddin Makasar cukup besar dan lebih bagus dari Bandara Juanda Surabaya.

Dari Bandara, kami naik taxi menuju Hotel Aston dengan biaya Rp 100.000,-.
Hotel Aston ini cukup strategis terletak di pusat kota, dekat dengan Pantai dan pusat keramaian seperti Lapangan Karebosi, Jalan Somba Opu dan Benteng Fort Rotterdam.  Di sebelah hotel ada supermarket Gelael dan KFCnya. Dan yang penting ada WIFI di kamar hotel dan kolam renang indoor untuk tempat santai anak2.
Kolam renang

Kamar hotel di Aston

Dari Hotel, dengan kendaraan sewaan yang sudah disewa Adik,  kami menuju ke Rumah Makan Seafood New Dinar di Jalan G.Latimojong 138A, Seafoodnya fresh dan rasanya mantap serta harganya tidak terlalu mahal.

Makanannya tidak sampai difoto semua, karena keburu dimakan :D

Puas makan, kami langsung balik hotel untuk istirahat.

Selasa, 22 Oktober 2013

Jalan Jalan ke Makassar - Pendahuluan

Liburan Juli 2013 ini kami sekeluarga ke Makasar. Kali ini rombongan besar yaitu dengan 2 keluarga adik saya serta dengan kakak dan Mama total 16 orang.

Awalnya tidak ada rencana ke Makasar tahun ini, tetapi karena adik sekeluarga di Jakarta sudah duluan pegang tiket AirAsia promo murah Jakarta-Makasar (Rp 450.000,- untuk 5 orang PP, jadi murah bangettt), dan ketika ada penawaran tiket pesawat  Air Asia Promo rute baru Surabaya-Makassar dan tanggalnya cocok, kami booking dengan total Rp  1.539.000,- untuk berlima. Kemudian Adik, Kakak dan Mama di Surabaya juga booking dengan hari yang sama.

Biasanya tiket promo rute baru Air Asia selalu murah dan nggak pernah ditawarkan lagi dengan harga yang sama. Sempat menyesal tahun lalu tidak jadi beli tiket rute baru Surabaya-Medan  PP Rp 500.000,- per orang karena sekarang harganya sudah mahal, harga tiketnya sama dengan atau lebih mahal tiket Surabaya ke Singapura.

Jadi rajin-rajin cari tiket promo ya.. :D

Untuk Hotel kami menjatuhkan pilihan Aston Makasar karena reviewnya cukup bagus di internet, Harga per malam type Superior Rp 615.000,- belinya langsung di Website Hotel.

Masalah transportasi cukup membingungkan karena rombongan besar. Opsi pertama mau sewa Bus Mini tapi kok mahal, akhirnya Adik menyewa Kijang Innova Rp 450.000,- per unit per hari (+ Driver), untuk bensinnya tanggungan kami. Dan ternyata pilihan terakhir ini yang paling tepat.

Selasa, 19 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 6, Selong Belanak, Bye Lombok!


Hari Keenam, 29 Desember 2012
Acara : Check Out Hotel, Beli Oleh-oleh, Makan siang, Pantai Selong Belanak, Bandara BIL.

Hari ini hari terakhir kami di Lombok. Setelah breakfast, kami berkemas dan check out hotel. Pukul 11.00 kami sudah dijemput oleh travel, ternyata drivernya Pak Mukhlis lagi. Pak Mukhlis mengajak kami ke Pusat Oleh-oleh Palem Perdana. Tokonya besar, dengan pilihan makanan yang beragam. Kami membeli dodol rumput laut, madu putih dll.

Acara dilanjutkan dengan wisata kuliner. Pak Mukhlis merekomendasikan menu Bebalung dekat kantor Gubernur Mataram, namanya Warung Klebet. Rasanya enak, dagingnya empuk dan kuahnya mantap. Uniknya lagi, warung ini khusus jual Bebalung. Recommended.

Sebelumnya sempat mampir ke Pangsit Mie Manalagi II di Ampenan, disini kami bungkus 2 mie pangsit untuk menu anak2 (info tempat makan ini dari rekomendasi di internet, tapi setelah dicicipi ternyata rasanya biasa saja tidak ada yang spesial).

Atas - Daerah Ampenan dan rumah makan yang menjual pangsit mie Manalagi
Bawah - Warung Klebet dan Bebalungnya
Sementara makan, Papa dapat telpon dari seorang kenalan dari Jakarta yang kebetulan ketemu waktu kemarin snorkeling di Gili Trawangan. Teman Papa menawarkan kami untuk jalan-jalan ke Selong Belanak, sebuah pantai tidak jauh dari Bandara. Dia bermaksud memperlihatkan tanah miliknya didaerah bukit menghadap pantai Selong Belanak, barangkali Papa mau invest di sana. Akhirnya janjian ketemu di Depot Bebalung dan beriringan menuju Selong Belanak.
Mendaki Bukit yang masih alamidan pemandangannya
yang masih hijau ditambah pantai Selong Belanak

Dari Bukit menuju Pantai. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Pantai Selong Belanak. Pantai ini unik karena garis pantainya yang panjang. Jadi, Pasir, pasir, pasir baru ketemu lautnya. Begitu panjang garis pantainya, sampai bisa dibuat gerombolan sapi lewat (gambar bawah)
Pantai Selong Belanak, dan Sapi-sapi yang melintas

Karena waktunya mepet, setelah makan jagung di Pantai Selong Belanak, kami bergegas menuju Bandara BIL.

Lombok sebenarnya punya banyak potensi untuk wisata, tetapi jarak antara tempat satu ke tempat lain mungkin cukup memakan waktu. Tapi, overall Lombok punya pemandangan yang bagus sekali.. :) Bye-Bye Lombok... See you next time :)

Senin, 18 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 5, Exploring Sendang Gile


Hari Kelima, 28 Desember 2012
Acara : Peternakan Mutiara, Sendang Gile Waterfall, Sunset @ Malimbu

Setelah Breakfast, Pukul 9.00 pagi kami sudah dijemput oleh Pak Mukhlis, driver dari Mahardika Travel.
Mobil Avanzanya baru dan wangi. Tiap penumpang diberi 1 botol aqua. Dan drivernya sopan sekali.
Kami langsung berangkat ke Air Terjun Sendang Gile. Dalam perjalanan saya baru sadar, lho kok nggak lewat Hutan Pusuk. Pak Mukhlis bilang jalan lewat Hutan Pusuk lebih jauh dan berkelok-kelok sedang jalan yang sekarang dilewati mulus. Jadi kami lewat Malimbu lagi seperti kemarin ke Pelabuhan Bangsal. Dan ternyata bisa masuk sedikit, untuk dapat spot foto yang lebih bagus daripada hari sebelumnya

Sempat kecewa juga karena tidak bisa memberi makan kera2 di Hutan Pusuk, tetapi kekecewaan itu segera hilang karena Pak Muchlis mengajak kami ke Showroom Mutiara Autore di Pemenang. Disana kita bisa daftar untuk ikut tour yang menjelaskan bagaimana proses peternakan mutiara, tetapi sayang hari itu tidak ada tour. Jika mau ikut tour daftar dahulu untuk besok Rp 180.000/orang , Wah nggak bisa deh, karena besok kami sudah pulang ke Surabaya.

Setelah melihat koleksi mutiara di showroom mereka, Bapak Ion, Manager Autore memanggil bawahannya untuk menjelaskan kepada kami mengenai proses beternak mutiara. Wah senang sekali. Petugas menjelaskan secara detail bagaimana proses pembuatan mutiara dengan alat peraga.Wah ternyata untuk mendapatkan 1 butir mutiara memerlukan waktu 4 tahun sebelum dapat dipanen. Dijelaskan juga bagaimana cara memilih mutiara yang bagus (ada Gradenya). Di Showroomnya koleksi mutiara mereka banyak. Ada yang masih butiran mutiara dan ada juga yang sudah jadi perhiasan. Harga 1 butir mutiaranya juga beragam tergantung mutunya antara 500.000,- sampai jutaan rupiah. Untuk perhiasannya dijual per piece seperti kalung, cincin, gelang ada juga 1 set perhiasan seharga Rp 1 milyar.
Kiri-Jalan ke showroom-nya Autore, Kanan-Gambar penyelam
sedang berada di peternakan mutiara dan
 jaring khusus untuk membudidayakan mutiara


Kiri - Mutiara dari kecil hingga besar (4 tahunan)
Kanan - Tempat peternakan mutiara dan perhiasan
perhiasan yang dibuat dari mutiara

Setelah peragaan selesai kami memilih 1 buah kerang untuk hiasan rumah seharga Rp 75.000,- (soalnya mutiaranya mahal-mahal sih...)

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Air terjun Sendang Gile. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang cantik, bentangan sawah yang luas dan subur dengan burung-burung serta kerbau di sawah. Berasa masuk ke lukisan anak-anak biasanya, ada gunung, matahari, sawah, dan segala komponennya.

Sesampai di Desa Senaru, kami makan siang dahulu di Pondok Senaru. Pemandangan Desa dari Pondok Senaru bagus sekali walaupun hujan turun cukup deras.
Pondok Senaru juga menyewakan kamar2nya untuk mereka yang mau stay disana. Suasananya dingin khas suasana pegunungan. Pak Mukhlis bercerita kalau yang stay di Pondok Senaru biasanya turis-turis yang selesai mendaki Gunung Rinjani. Para pendaki biasanya mulai mendaki dari Desa Sembalun. Medan yang dilewati cukup berat, biasanya memerlukan waktu 3 hari 2 malam, menginap di tenda dan membawa sleeping bag serta persediaan makanan. Selain puncak gunung, tempat yang sering dikunjungi adalah Danau Segara Anak. Pemandangan di Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak ini yang dikatakan paling cantik diantara gunung-gunung lain di Indonesia. Setelah mendaki gunung mereka turun gunung menuju Desa Senaru. Nah... di kaki Gunung Rinjani itulah ada banyak Air Terjun dan yang terkenal adalah Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep. Biasanya para pendaki beristirahat dulu di Pondok Senaru atau di homestay lain di Desa Senaru, setelah itu baru ke Air Terjun atau balik ke Senggigi.
Makan di Pondok Senaru

Setelah makan siang dan menunggu hujan agak reda, kami menuju ke loket Lokasi Air Terjun Sendang Gile, di sebelah kiri Pondok Senaru. Biaya tiket Rp 5.000,-/orang. Mereka menawarkan Guide untuk menuju ke Air Terjun, tapi dengan sopan kami menolaknya. Kami langsung berjalan menuju tangga turun, sekitar 15 menit kemudian sampailah kami di Air Terjun Sendang Gile. Air Terjunnya bagus sekali.
Air Terjun Sendang Gile
Kanan- dalam perjalanan ke air terjun, masih hujan
Tetapi ketika kami sudah sampai, syukurlah hujannya berhenti
Seharusnya bisa meneruskan perjalanan ke Air Terjun Tiu Kelep, tapi sejak awal kami tidak ada rencana kesana karena medannya lebih berat dan jauh, sekitar 30 menit dari Air Terjun Sendang Gile dan harus sewa Guide.

Dari Air Terjun, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Malimbu untuk melihat sunset. Hujan masih terus turun, kami berhenti di sebuah bukit untuk mencoba mengabadikan sunset di atas bukit tersebut, tapi kelihatannya awan masih menutupi matahari.

Di Malimbu sebelum sunset
Mobil mulai bergerak lagi, menjelang sampai ke Puncak Malimbu, Sunset perlahan terlihat dan Pak Mukhlis segera menghentikan mobilnya untuk memberi kesempatan kami mengabadikan Sunset. Wah... akhirnya bisa lihat Sunset @ near Malimbu.
Kanan atas-Masih di Malimbu, Tapi sunsetnya terhalang awan
Kiri dan kanan bawah- Sunset di dekat Malimbu, Indah sekali..
Setelah puas melihat Sunset, kami kembali ke Hotel. Sempat foto-foto sebentar di pantai mengabadikan suasana sore hari itu.

Makan malam kali ini tetap di Cafe Tenda dengan menu Bebek, Mie Goreng dan Ikan Bakar.
Papa janjian dengan Mahardika Travel untuk menjemput kami besok jam 11.00.

Minggu, 17 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 4,Santai di Hotel

Hari Keempat, 27 Desember 2012
Acara : Menikmati Hotel.

Setelah 3 hari capek dijalan, dan pagi ini hujan cukup deras  maka kami berencana di Hotel saja. Bangun agak siang, lalu breakfast.  Sempat complain ke pihak Hotel, karena air AC masih menetes terus, katanya mau dicek dan rencana mau diupgrade kamarnya.

Kami bersyukur karena Fasilitas Hotel Santosa cukup bagus dengan Taman dan kolam renang yang luas serta di belakang hotel kita bisa bermain di Pantai Senggigi. Setelah hujan reda, pagi itu kami berjalan-jalan di Pantai Senggigi, banyak kapal yang bersandar di sepanjang pantai. Ternyata banyak yang menawari kami untuk menyeberang ke Gili Trawangan dari Pantai Senggigi. Kami melihat, beberapa keluarga juga mencarter kapal untuk ke Gili Trawangan.

Glass Bottom Boat dari Senggigi ke Gili Trawangan
Tapi dari search di google,  kalau kita naik kapal, perjalanan dari Senggigi ke Gili Trawangan ditempuh sekitar 1 jam dan kapalnya lebih kecil dari kapal public boat yang kami tumpangi dari Pelabuhan Bangsal kemarin. Yang nggak tahan bisa mabuk laut karena ombaknya cukup besar dan kapalnya kecil. Carter kapal ini juga lebih mahal sekitar 400.000-an. Nggak deh, apalagi bawa anak2 bisa rewel kelamaan di kapal.

Kembali ke topik semula, kami berjalan lagi ke sebelah kiri pantai, disana banyak anak2 sedang bermain kano.

Dan banyak Warung-warung makanan yang menjual makanan khas Lombok, Sate dengan bulayak (seperti lontong di Jawa) serta Kelapa muda. Tapi kami belum sempat mencoba. Juga banyak yang berjualan Kaos Lombok serta perhiasan mutiara dan souvenir lainnya, pokoknya komplet seperti pasar.
Sate Bulayak (Sumber: Google)

Setelah berjalan-jalan di Pantai, kami mengajak anak-anak untuk berenang di kolam renang hotel yang luas.
Anak-anak senang berenang di sini karena luas dan ada ban renang yang single ataupun yang bisa untuk 4 orang. Di sebelah kolam renang juga ada tempat bermain untuk anak-anak.
Bermain, santai dan menikmati fasilitas hotel :)

Setelah renang, kami makan siang di pantai dengan meminjam tikar seharga Rp 10.000,- sambil minum air kelapa muda. Anak-anak dan papanya bermain kano di siang hari itu sampai gosong ha...ha.. ha..
Piknik dan Kano-ing
Setelah main kano, mereka masih kuat dan mengajak renang lagi di kolam renang. Setelah puas berenang, kami kembali ke kamar hotel dan mendapat informasi bahwa kamar kami jadi diupgrade dari Terrace Room ke Superior. Puji Syukur, tidak tidur dempet2an lagi.

Kamar Superior Roomnya lebih besar dan yang paling penting twin bednya ukuran 120x200 lebih luas dari twin bed di Terrace Room yang hanya 100x200.

Malamnya kami beli makanan bungkus lagi di Cafe tenda Cak Poer dengan menu Bebek penyet, Ayam Penyet dan Mie Kuah.

Papa juga menghubungi Mahardika Travel untuk sewa mobil Avanza + sopir + BBM untuk besok. Rencananya mau ke Air Terjun Sendang Gile lewat hutan pusuk dan kembalinya lewat Malimbu untuk mencari Sunset.

Sepakat harga Rp 400.000,- (tanpa mengantar makan malam).

Sabtu, 16 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 3, Snorkeling at Gili-Gili

Hari Ketiga, 26 Desember 2012

Acara : Pelabuhan Bangsal, Gili Trawangan, Glass Bottom Boat dan Snorkeling ke Gili-Gili

Setelah hujan semalaman sampai dengan jam 7 pagi. Cuaca pagi ini cukup cerah. Setelah Breakfast kami memutuskan untuk berangkat menuju Gili Trawangan, Lombok.
Kami memesan Lombok Taxi untuk menjemput ke Hotel.

LOMBOK TAKSI & GOLDEN BIRD
Jl. Koperasi No. 102 Ampenan, Lombok Barat NTB.
Telp:+62(370)627000, 645000
Fax:+62(370)623972


Hanya nunggu 5 menit, ternyata taxi sudah menjemput kami karena pangkalan taxinya di Jl .Senggigi juga. Untuk ke Gili Trawangan kami naik taxi ke Pelabuhan Bangsal Pemenang sekitar 30 menit dari Senggigi. Dalam perjalanan kami mampir ke Puncak Malimbu untuk berfoto sebentar. Pemandangan dari Puncak Malimbu bagus sekali.

Selama perjalanan menolehlah ke sebelah kiri jalan, karena kita akan disuguhi pemandangan yang sungguh cantik. Pemandangan pantai yang indah dengan pohon-pohonnya.
Puncak Malimbu dan pemandangan sepanjang perjalanan (foto pojok kiri)
Sesampai di Bangsal, taxi berhenti di ujung jalan. Perjalanan ke Pelabuhan dilanjutkan dengan Cidomo (semacam dokar). Kami sempat menanyakan ke Driver taxi, mengapa taxinya tidak langsung mengantar kami ke Pelabuhan karena jalannya cukup lebar untuk dilalui mobil. Kata Drivernya untuk bagi2 rejeki dengan penduduk setempat. Biaya taxi Senggigi ke Bangsal Rp 70.000,- dan Biaya Cidomo Rp 30.000,-

Untuk menghindari kesulitan transport kembali ke Senggigi maka kami janjian agar driver taxi menjemput kami sorenya.

Perjalanan dengan Cidomo ke Pelabuhan Bangsal ternyata tidak terlalu jauh, tapi anak-anak senang juga bisa naik Cidomo.

Sesampai di Pelabuhan, kami langsung beli tiket resmi penyeberangan ke Gili Trawangan di Koperasi "Karya Bahari ". Biaya per orang Rp 12.500,-

Kami diberi tiket berwarna merah muda, untuk penanda antrian (antrian sebelumnya diberi warna kuning, jadi tidak bisa serobotan).  Setelah menunggu 30 menitan, semua penumpang dengan tiket warna merah muda boleh naik ke kapal. Karena yang kami naiki adalah public boat maka penumpangnya selain para wisatawan juga para pedagang dengan semua barangnya yang cukup banyak. Petugas kapal dengan sigap mengatur barang yang besar masuk duluan kemudian mempersilahkan para penumpang naik ke kapal, dan terakhir menaikkan sisa barang lainnya. Hati-hati ketika berjalan menuju kapal, karena sebagian kaki terendam air. Saya sempat kehilangan sandal karena kebawa arus air. Jadi lebih baik sandalnya dijinjing saja.

Perjalanan ke Gili Trawangan kurang lebih 30 menit. Sesampai di Gili Trawangan kami menuju ke loket untuk membeli tiket Glass Bottom Boat dan Snorkeling ke Gili Meno dan Gili Air. Biaya tiket Rp 100.000,- per orang. Kalau mau naik Glass Bottom Boat jangan kesiangan karena kapal hanya berangkat pukul 10.30 sampai 11.00.
Transportasi yang kami naiki hari ketiga- Cidomo (Dokar ala Lombok),
Berfoto di depan pelabuhan Bangsal, Public Boat yang penuh sesak,
dan glass bottom boat untuk snorkeling
Pukul 11.00 Glass Bottom Boat sudah terisi penumpang sekitar 30 orang. Kebanyakan penumpang turis asing, yang turis lokal termasuk kami ada 13 orang, kami sekeluarga 5 orang, 1 keluarga lagi dari Jakarta 4 org, dan 2 pasangan suami istri. Kapal mulai berangkat menuju perhentian (spot) yang pertama di tengah laut antara Gili Trawangan dan Gili Meno. Sebelumnya petugas membagikan alat snorkeling (kacamata , snorkle serta Life vest). Untuk sepatu katak (Fin) harusnya pinjam di kantornya sesuai ukuran S, M, L, tapi karena nggak diberitahu sebelumnya maka kami nggak pakai sepatu katak.

Di Spot yang pertama, kita bisa melihat ikan warna-warni dan terumbu karang. Yang tidak berenang bisa melihat di Glass Bottom. Waktu yang diberikan untuk spot yang pertama 30 menit.

Perjalanan dilanjutkan ke Spot yang kedua, yang merupakan spot yang tercantik. Guide menjelaskan prosedur untuk spot kedua ini yaitu Guide akan memimpin di depan dilanjutkan dengan penumpang lain yang mau ikut. Dijelaskan juga bahwa kapal tidak akan mengikuti kami seperti di spot yang pertama, jadi yang boleh ikut  harus benar-benar perenang yang handal karena jalur berenangnya lebih jauh. Di spot ini kita bisa melihat dari dekat Manta Rays dan Sea Turtle. Setelah instruksi tersebut, kami dan beberapa turis lokal memilih tidak ikut dan menunggu di kapal. Tapi ternyata Gita, anak bontot kami yang masih 8 tahun  malah ngotot ikut di Spot yang kedua itu. Kami sempat kawatir karena kami tidak bisa mendampingi (harus belajar renang dulu he...he...he...). Dengan nekad, Gita nyemplung ke laut mengikuti perenang lainnya yang lebih dewasa. Dan ternyata dia bisa menyelesaikan Spot kedua dengan baik. Meskipun sempat nangis karena kacamatanya copot dan nggak bisa lihat turtle. Wah, nggak rugi Gita ikut klub renang di Surabaya karena staminanya kuat untuk berenang di laut lepas he..he..he...

Setelah Spot kedua selesai, Guide menanyakan apakah lanjut ke Spot yang ketiga atau makan dahulu. Semua penumpang sepakat mengatakan FOOOOD!!.

Kapal merapat ke Gili Air untuk memberikan kesempatan para penumpang untuk makan siang. Makan siang ini bayar sendiri, tidak termasuk harga tour. Kami diantar ke salah satu restaurant di pinggir pantai. Suasana cukup nyaman, dapat melihat laut lepas.

Setelah makan siang, semua penumpang dipersilahkan untuk naik ke kapal. Acara dilanjutkan ke Spot yang ketiga. Sama seperti spot pertama di spot ini kita diberikan waktu 30 menit untuk snorkeling. Saya dan suami mencoba snorkeling di spot yang ketiga ini. Saya sempat panik di spot ini karena seperti kebawa arus air dan tidak bisa berenang. Gita si kecil menolong saya dengan membawa saya kembali ke pinggir kapal dengan ban yang dilempar dari kapal. Wah malu2in deh ....
Gita the rescuer dengan pelampung, Makan sate di restoran pinggir pantai di Gili Meno(foto kanan)

Setelah spot yang ketiga, kapal kembali ke Gili Trawangan.

Sampai di Gili Trawangan sudah pukul 15.30. Kalau mau keliling pulau kita dapat naik Cidomo atau sewa sepeda karena nggak ada kendaraan bermotor. Tarif Cidomo Rp 125.000,- dan Sewa sepeda Rp 30.000,-. Kami memutuskan untuk jalan-jalan saja sekitar pulau dan mampir di salah satu cafe untuk minum jus.
Gili Trawangan - Pergi ke salah satu cafe dan bermain di pantai

Sekitar pukul 16.30 kami menuju ke Loket untuk membeli tiket penyeberangan ke Pelabuhan Bangsal seharga Rp 10.000,-/orang. Sama seperti berangkatnya, public boat dipenuhi wisatawan dan para pedagang yang kembali ke Pelabuhan.

Sesampai di Pelabuhan, kami naik Cidomo lagi sampai ke ujung jalan. Sambil menanti taxi yang akan menjemput kami, banyak taxi lain yang menawari untuk mengantar kami. Ternyata tidak perlu kawatir tidak ada transport di Pelabuhan, karena ada banyak taxi didekat pangkalan Cidomo. Tak berapa lama taxi yang menjemput kami datang dan mengantar kami ke Senggigi. Rencananya kami mau mengejar Sunset di Malimbu, tapi kami kecewa karena langit mendung dan hujan mulai turun. Nggak jadi lihat sunset deh....
Akhirnya kami kembali ke Hotel. Biaya taxi Bangsal ke Senggigi Rp 75.000,-

(Lebih murah ongkos Taxinya, karena hari sebelumnya kami ditawari untuk diantar jemput oleh Driver taxi Pak Edi dengan harga Rp 250.000,- pp).

Malamnya karena hujan cukup deras, saya berdua dengan suami keluar hotel dan membeli makan malam untuk dibungkus di Cafe Tenda Pak Poer (jadi langganan nih). Menunya Fuyunghai, Tamie Capcay dan Nasi Goreng. Untuk minumnya ada STMJ dan Hot Tea.

Jumat, 15 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok day 2, Kebudayaan Lombok

Hari Kedua, 25 Desember 2012

Acara hari ini : Gereja Maria Immaculata Mataram, Pura Mayura, Kerajinan Tenun Sukarare, Desa Adat Sade, Pantai Kuta, Pura Lingsar, Toko Oleh2 Ria

Setelah Breakfast, jam 07.30 kami sudah siap dan dijemput Pak Edi, supir taxi yang mengantarkan kami ke bandara, menuju ke Mataram. Karena hari ini hari Natal maka acara pertama kami adalah ke Gereja Katolik Maria Immaculata Mataram. Ketika kami sampai di Gereja, Gereja sudah dijaga ketat oleh polisi. Umat sudah meluber sampai di pelataran Gereja. Kami beribadat di pelataran Gereja yang sudah dipasang tenda.Udara panas sekali. Karena Gita sudah rewel keringatan dan kepanasan akhirnya sebelum acara selesai kami sudah pulang.

Perjalanan kami lanjutkan ke Pura Mayure, Tiket Masuk Rp 5.000,-/orang. Masuk Pura, kami disambut oleh Guide yang memberi kami Selendang Kuning (lambang untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk) kemudian Guide menjelaskan asal-usul Pura. Konon Kata Mayura dalam bahasa Sansekerta yang berarti Burung Merak. Pura Mayura didirikan oleh Raja A.A Ngurah dari Karang asem Bali. Luas areanya cukup besar dan dikelilingi taman dan banyak pohon manggisnya, Di tengah bangunan ada Bale Kambang, Balai untuk musyawarah yang terletak di tengah danau. Ada 3 patung orang Cina dan 3 patung orang Arab membuktikan bahwa ada toleransi beragama sejak jaman dahulu kala. Dan ada Balai tunggu serta Pura Utama ada di area paling belakang. Tip guide Rp 30.000,-
Di depan bale untuk musyawarah dan ikon manggis di lantai
Acara berikutnya ke Kerajinan Tenun Sukarare. Di sini kita bisa mencoba bagaimana cara menenun kepada ibu-ibu yang sedang menenun di depan Galery Produk. Konon Gadis suku Sasak harus bisa menenun baru boleh menikah.

Guide menjelaskan kepada kami bagaimana proses menenun tenun songket yang dikerjakan oleh Ibu-ibu. Dan bagaimana proses membuat tenun ikat yang dikerjakan kaum pria. Mereka juga membuat Batik yang coraknya beda dengan batik yang ada di Jawa.
Searah jarum jam - pojok kiri- pembuatan pola tenun ikat, pengrajin mengerjakan tenun ikat,
alat untuk membuat tenun ikat, serta pengrajin batik
 

Di Gallery di tempat Kerajinan Tenun Sukarare juga ada kerajinan kayu seperti meja, papan catur, topeng, dll. Ada juga Lukisan yang dijual di lantai atas Gallerynya.
Akhirnya, kami membeli sebuah Tenunan untuk hiasan rumah bergambar Tokek sebagai lambang keberuntungan seharga Rp 500.000,-. Tip pengajar tenun Rp 10.000,-, Tip Guide Rp 20.000,-
Kerajinan kayu dan kain hasil tenun ikat dipajang di gallery

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Adat Sade. Menurut Guide,  Desa ini dihuni sekitar 700 orang. Proses perkawinan mereka antar saudara. Tata cara Nikahnya adalah kawin lari : Jika seorang pria naksir seorang perempuan, dan yang perempuannya mau, maka si pria boleh melarikan gadisnya dan setelah itu baru dinikahkan. Kalau menikah dengan suku lain mahal, mereka harus menyediakan 1 ekor sapi. Yang unik, lantai dirumah mereka dibersihkan 1 bulan sekali dengan dilapisi Tahi Kerbau. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah Petani, kerja sampingannya adalah menenun dan membuat kerajinan.

Di Desa ini kami membeli Gelang untuk oleh-oleh Rp 10.000/3 gelang. Tip Guide Rp 15.000,-
Kiri - Di depan rumah adat sade, Di dalam rumah mereka,
Gita bersama nenek yang sedang memintal benang
Dan gelang-gelang yang dijual di sana
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Kuta. Setelah makan siang di Are Guling Restaurant di Kuta, kami main di pantai Kuta dekat Novotel Hotel Kuta. Pantainya bersih dengan pasir putih seperti merica, bagus sekali.Sambil main, foto-foto dan anak-anak membuat istana pasir, kami membeli Kelapa Muda Rp 10.000/buah. Di sini banyak anak kecil yang memaksa agar membeli gelang yang mereka jual. Begitu satu anak kita beli barangnya, teman yang lain ikut memaksa kita untuk membeli. Wah, repot deh....
Pantai Kuta, Lombok - Membuat Istana Pasir

Pantai Kuta, dengan pasir merica dan view yang bagus :)

Acara dilanjutkan ke Pura Lingsar yang merupakan Pura terbesar di Lombok. Pura ini sebagai penanda kerukunan umat beragama. Sebelum Islam masuk Lombok, suku Sasak menganut Animisme dengan meyakini unsur magis mata air yang ada di Lingsar ini. Ajaran Islam masuk dengan ajaran Wetu Telu, ajaran yang disesuaikan dengan masyarakat Sasak yaitu bersembahyang 3 waktu bukan 5 waktu. Kemudian Masyarakat Bali membawa Agama Hindu masuk ke Lombok juga.

Dalam melestarikan sebuah mata air yang diakui dan diyakini oleh kedua umat sebagai sebuah kawasan sakral dan magis, sesuai dengan tradisi kultur dan keyakinan masing-masing umat, maka ada sebuah upacara “Perang Topat” oleh umat Sasak yang kegiatannya berlangsung dalam waktu dan tempat bersamaan dengan Upacara Odalan atau Pujawali yang dilakukan oleh Umat Hindu dan kedua umat dapat dengan hidmat melaksanakan upacaranya masing-masing.

Di dalam kompleks, ada Bapak yang menjual perhiasan mutiara air tawar. Anak-anak kami tertarik untuk membeli 1 gelang dan 2 kalung dengan harga total Rp 100.000,-.

Di depan pura, Make a wish dengan lempar koin membelakangi
kolam(pojok kiri), dan mutiara air tawar yang ditawarkan :)
Di luar kompleks ada banyak anak2 kecil yang menjual minyak nagasari (untuk obat gatal2) dengan agak memaksa. Sayang sekali, cukup mengganggu para wisatawan yang mengunjungi Pura tersebut.

Berikutnya kami ke Toko Oleh-Oleh Rayani yang berjualan mutiara. Dan di sebelahnya ada Toko Ria yang
menjual kain songket, tenun ikat, madu, dodol, dan kaos Lombok. Kami membeli beberapa kaos untuk oleh2.

Acara berikutnya makan malam. Kami mencari yang khas Lombok, yaitu Ayam Taliwang. Driver taxi mengajak kita ke sebuah restaurant yang katanya menjual ayam taliwang tapi sesampainya disana menu ayam taliwangnya habis. Maka kami berpindah ke restaurant Yeni Murad di Rembiga. Disini kami mencoba Ayam Bakar Taliwang, Plecing Kangkung, dan Bebalung (Bebalung ini juga khas Lombok, seperti Sop Buntut, tetapi bumbunya sedikit lain). Cukup enak.

Setelah makan malam kami kembali ke Hotel.