Selasa, 19 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 6, Selong Belanak, Bye Lombok!


Hari Keenam, 29 Desember 2012
Acara : Check Out Hotel, Beli Oleh-oleh, Makan siang, Pantai Selong Belanak, Bandara BIL.

Hari ini hari terakhir kami di Lombok. Setelah breakfast, kami berkemas dan check out hotel. Pukul 11.00 kami sudah dijemput oleh travel, ternyata drivernya Pak Mukhlis lagi. Pak Mukhlis mengajak kami ke Pusat Oleh-oleh Palem Perdana. Tokonya besar, dengan pilihan makanan yang beragam. Kami membeli dodol rumput laut, madu putih dll.

Acara dilanjutkan dengan wisata kuliner. Pak Mukhlis merekomendasikan menu Bebalung dekat kantor Gubernur Mataram, namanya Warung Klebet. Rasanya enak, dagingnya empuk dan kuahnya mantap. Uniknya lagi, warung ini khusus jual Bebalung. Recommended.

Sebelumnya sempat mampir ke Pangsit Mie Manalagi II di Ampenan, disini kami bungkus 2 mie pangsit untuk menu anak2 (info tempat makan ini dari rekomendasi di internet, tapi setelah dicicipi ternyata rasanya biasa saja tidak ada yang spesial).

Atas - Daerah Ampenan dan rumah makan yang menjual pangsit mie Manalagi
Bawah - Warung Klebet dan Bebalungnya
Sementara makan, Papa dapat telpon dari seorang kenalan dari Jakarta yang kebetulan ketemu waktu kemarin snorkeling di Gili Trawangan. Teman Papa menawarkan kami untuk jalan-jalan ke Selong Belanak, sebuah pantai tidak jauh dari Bandara. Dia bermaksud memperlihatkan tanah miliknya didaerah bukit menghadap pantai Selong Belanak, barangkali Papa mau invest di sana. Akhirnya janjian ketemu di Depot Bebalung dan beriringan menuju Selong Belanak.
Mendaki Bukit yang masih alamidan pemandangannya
yang masih hijau ditambah pantai Selong Belanak

Dari Bukit menuju Pantai. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Pantai Selong Belanak. Pantai ini unik karena garis pantainya yang panjang. Jadi, Pasir, pasir, pasir baru ketemu lautnya. Begitu panjang garis pantainya, sampai bisa dibuat gerombolan sapi lewat (gambar bawah)
Pantai Selong Belanak, dan Sapi-sapi yang melintas

Karena waktunya mepet, setelah makan jagung di Pantai Selong Belanak, kami bergegas menuju Bandara BIL.

Lombok sebenarnya punya banyak potensi untuk wisata, tetapi jarak antara tempat satu ke tempat lain mungkin cukup memakan waktu. Tapi, overall Lombok punya pemandangan yang bagus sekali.. :) Bye-Bye Lombok... See you next time :)

Senin, 18 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 5, Exploring Sendang Gile


Hari Kelima, 28 Desember 2012
Acara : Peternakan Mutiara, Sendang Gile Waterfall, Sunset @ Malimbu

Setelah Breakfast, Pukul 9.00 pagi kami sudah dijemput oleh Pak Mukhlis, driver dari Mahardika Travel.
Mobil Avanzanya baru dan wangi. Tiap penumpang diberi 1 botol aqua. Dan drivernya sopan sekali.
Kami langsung berangkat ke Air Terjun Sendang Gile. Dalam perjalanan saya baru sadar, lho kok nggak lewat Hutan Pusuk. Pak Mukhlis bilang jalan lewat Hutan Pusuk lebih jauh dan berkelok-kelok sedang jalan yang sekarang dilewati mulus. Jadi kami lewat Malimbu lagi seperti kemarin ke Pelabuhan Bangsal. Dan ternyata bisa masuk sedikit, untuk dapat spot foto yang lebih bagus daripada hari sebelumnya

Sempat kecewa juga karena tidak bisa memberi makan kera2 di Hutan Pusuk, tetapi kekecewaan itu segera hilang karena Pak Muchlis mengajak kami ke Showroom Mutiara Autore di Pemenang. Disana kita bisa daftar untuk ikut tour yang menjelaskan bagaimana proses peternakan mutiara, tetapi sayang hari itu tidak ada tour. Jika mau ikut tour daftar dahulu untuk besok Rp 180.000/orang , Wah nggak bisa deh, karena besok kami sudah pulang ke Surabaya.

Setelah melihat koleksi mutiara di showroom mereka, Bapak Ion, Manager Autore memanggil bawahannya untuk menjelaskan kepada kami mengenai proses beternak mutiara. Wah senang sekali. Petugas menjelaskan secara detail bagaimana proses pembuatan mutiara dengan alat peraga.Wah ternyata untuk mendapatkan 1 butir mutiara memerlukan waktu 4 tahun sebelum dapat dipanen. Dijelaskan juga bagaimana cara memilih mutiara yang bagus (ada Gradenya). Di Showroomnya koleksi mutiara mereka banyak. Ada yang masih butiran mutiara dan ada juga yang sudah jadi perhiasan. Harga 1 butir mutiaranya juga beragam tergantung mutunya antara 500.000,- sampai jutaan rupiah. Untuk perhiasannya dijual per piece seperti kalung, cincin, gelang ada juga 1 set perhiasan seharga Rp 1 milyar.
Kiri-Jalan ke showroom-nya Autore, Kanan-Gambar penyelam
sedang berada di peternakan mutiara dan
 jaring khusus untuk membudidayakan mutiara


Kiri - Mutiara dari kecil hingga besar (4 tahunan)
Kanan - Tempat peternakan mutiara dan perhiasan
perhiasan yang dibuat dari mutiara

Setelah peragaan selesai kami memilih 1 buah kerang untuk hiasan rumah seharga Rp 75.000,- (soalnya mutiaranya mahal-mahal sih...)

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Air terjun Sendang Gile. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang cantik, bentangan sawah yang luas dan subur dengan burung-burung serta kerbau di sawah. Berasa masuk ke lukisan anak-anak biasanya, ada gunung, matahari, sawah, dan segala komponennya.

Sesampai di Desa Senaru, kami makan siang dahulu di Pondok Senaru. Pemandangan Desa dari Pondok Senaru bagus sekali walaupun hujan turun cukup deras.
Pondok Senaru juga menyewakan kamar2nya untuk mereka yang mau stay disana. Suasananya dingin khas suasana pegunungan. Pak Mukhlis bercerita kalau yang stay di Pondok Senaru biasanya turis-turis yang selesai mendaki Gunung Rinjani. Para pendaki biasanya mulai mendaki dari Desa Sembalun. Medan yang dilewati cukup berat, biasanya memerlukan waktu 3 hari 2 malam, menginap di tenda dan membawa sleeping bag serta persediaan makanan. Selain puncak gunung, tempat yang sering dikunjungi adalah Danau Segara Anak. Pemandangan di Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak ini yang dikatakan paling cantik diantara gunung-gunung lain di Indonesia. Setelah mendaki gunung mereka turun gunung menuju Desa Senaru. Nah... di kaki Gunung Rinjani itulah ada banyak Air Terjun dan yang terkenal adalah Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep. Biasanya para pendaki beristirahat dulu di Pondok Senaru atau di homestay lain di Desa Senaru, setelah itu baru ke Air Terjun atau balik ke Senggigi.
Makan di Pondok Senaru

Setelah makan siang dan menunggu hujan agak reda, kami menuju ke loket Lokasi Air Terjun Sendang Gile, di sebelah kiri Pondok Senaru. Biaya tiket Rp 5.000,-/orang. Mereka menawarkan Guide untuk menuju ke Air Terjun, tapi dengan sopan kami menolaknya. Kami langsung berjalan menuju tangga turun, sekitar 15 menit kemudian sampailah kami di Air Terjun Sendang Gile. Air Terjunnya bagus sekali.
Air Terjun Sendang Gile
Kanan- dalam perjalanan ke air terjun, masih hujan
Tetapi ketika kami sudah sampai, syukurlah hujannya berhenti
Seharusnya bisa meneruskan perjalanan ke Air Terjun Tiu Kelep, tapi sejak awal kami tidak ada rencana kesana karena medannya lebih berat dan jauh, sekitar 30 menit dari Air Terjun Sendang Gile dan harus sewa Guide.

Dari Air Terjun, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Malimbu untuk melihat sunset. Hujan masih terus turun, kami berhenti di sebuah bukit untuk mencoba mengabadikan sunset di atas bukit tersebut, tapi kelihatannya awan masih menutupi matahari.

Di Malimbu sebelum sunset
Mobil mulai bergerak lagi, menjelang sampai ke Puncak Malimbu, Sunset perlahan terlihat dan Pak Mukhlis segera menghentikan mobilnya untuk memberi kesempatan kami mengabadikan Sunset. Wah... akhirnya bisa lihat Sunset @ near Malimbu.
Kanan atas-Masih di Malimbu, Tapi sunsetnya terhalang awan
Kiri dan kanan bawah- Sunset di dekat Malimbu, Indah sekali..
Setelah puas melihat Sunset, kami kembali ke Hotel. Sempat foto-foto sebentar di pantai mengabadikan suasana sore hari itu.

Makan malam kali ini tetap di Cafe Tenda dengan menu Bebek, Mie Goreng dan Ikan Bakar.
Papa janjian dengan Mahardika Travel untuk menjemput kami besok jam 11.00.

Minggu, 17 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 4,Santai di Hotel

Hari Keempat, 27 Desember 2012
Acara : Menikmati Hotel.

Setelah 3 hari capek dijalan, dan pagi ini hujan cukup deras  maka kami berencana di Hotel saja. Bangun agak siang, lalu breakfast.  Sempat complain ke pihak Hotel, karena air AC masih menetes terus, katanya mau dicek dan rencana mau diupgrade kamarnya.

Kami bersyukur karena Fasilitas Hotel Santosa cukup bagus dengan Taman dan kolam renang yang luas serta di belakang hotel kita bisa bermain di Pantai Senggigi. Setelah hujan reda, pagi itu kami berjalan-jalan di Pantai Senggigi, banyak kapal yang bersandar di sepanjang pantai. Ternyata banyak yang menawari kami untuk menyeberang ke Gili Trawangan dari Pantai Senggigi. Kami melihat, beberapa keluarga juga mencarter kapal untuk ke Gili Trawangan.

Glass Bottom Boat dari Senggigi ke Gili Trawangan
Tapi dari search di google,  kalau kita naik kapal, perjalanan dari Senggigi ke Gili Trawangan ditempuh sekitar 1 jam dan kapalnya lebih kecil dari kapal public boat yang kami tumpangi dari Pelabuhan Bangsal kemarin. Yang nggak tahan bisa mabuk laut karena ombaknya cukup besar dan kapalnya kecil. Carter kapal ini juga lebih mahal sekitar 400.000-an. Nggak deh, apalagi bawa anak2 bisa rewel kelamaan di kapal.

Kembali ke topik semula, kami berjalan lagi ke sebelah kiri pantai, disana banyak anak2 sedang bermain kano.

Dan banyak Warung-warung makanan yang menjual makanan khas Lombok, Sate dengan bulayak (seperti lontong di Jawa) serta Kelapa muda. Tapi kami belum sempat mencoba. Juga banyak yang berjualan Kaos Lombok serta perhiasan mutiara dan souvenir lainnya, pokoknya komplet seperti pasar.
Sate Bulayak (Sumber: Google)

Setelah berjalan-jalan di Pantai, kami mengajak anak-anak untuk berenang di kolam renang hotel yang luas.
Anak-anak senang berenang di sini karena luas dan ada ban renang yang single ataupun yang bisa untuk 4 orang. Di sebelah kolam renang juga ada tempat bermain untuk anak-anak.
Bermain, santai dan menikmati fasilitas hotel :)

Setelah renang, kami makan siang di pantai dengan meminjam tikar seharga Rp 10.000,- sambil minum air kelapa muda. Anak-anak dan papanya bermain kano di siang hari itu sampai gosong ha...ha.. ha..
Piknik dan Kano-ing
Setelah main kano, mereka masih kuat dan mengajak renang lagi di kolam renang. Setelah puas berenang, kami kembali ke kamar hotel dan mendapat informasi bahwa kamar kami jadi diupgrade dari Terrace Room ke Superior. Puji Syukur, tidak tidur dempet2an lagi.

Kamar Superior Roomnya lebih besar dan yang paling penting twin bednya ukuran 120x200 lebih luas dari twin bed di Terrace Room yang hanya 100x200.

Malamnya kami beli makanan bungkus lagi di Cafe tenda Cak Poer dengan menu Bebek penyet, Ayam Penyet dan Mie Kuah.

Papa juga menghubungi Mahardika Travel untuk sewa mobil Avanza + sopir + BBM untuk besok. Rencananya mau ke Air Terjun Sendang Gile lewat hutan pusuk dan kembalinya lewat Malimbu untuk mencari Sunset.

Sepakat harga Rp 400.000,- (tanpa mengantar makan malam).

Sabtu, 16 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 3, Snorkeling at Gili-Gili

Hari Ketiga, 26 Desember 2012

Acara : Pelabuhan Bangsal, Gili Trawangan, Glass Bottom Boat dan Snorkeling ke Gili-Gili

Setelah hujan semalaman sampai dengan jam 7 pagi. Cuaca pagi ini cukup cerah. Setelah Breakfast kami memutuskan untuk berangkat menuju Gili Trawangan, Lombok.
Kami memesan Lombok Taxi untuk menjemput ke Hotel.

LOMBOK TAKSI & GOLDEN BIRD
Jl. Koperasi No. 102 Ampenan, Lombok Barat NTB.
Telp:+62(370)627000, 645000
Fax:+62(370)623972


Hanya nunggu 5 menit, ternyata taxi sudah menjemput kami karena pangkalan taxinya di Jl .Senggigi juga. Untuk ke Gili Trawangan kami naik taxi ke Pelabuhan Bangsal Pemenang sekitar 30 menit dari Senggigi. Dalam perjalanan kami mampir ke Puncak Malimbu untuk berfoto sebentar. Pemandangan dari Puncak Malimbu bagus sekali.

Selama perjalanan menolehlah ke sebelah kiri jalan, karena kita akan disuguhi pemandangan yang sungguh cantik. Pemandangan pantai yang indah dengan pohon-pohonnya.
Puncak Malimbu dan pemandangan sepanjang perjalanan (foto pojok kiri)
Sesampai di Bangsal, taxi berhenti di ujung jalan. Perjalanan ke Pelabuhan dilanjutkan dengan Cidomo (semacam dokar). Kami sempat menanyakan ke Driver taxi, mengapa taxinya tidak langsung mengantar kami ke Pelabuhan karena jalannya cukup lebar untuk dilalui mobil. Kata Drivernya untuk bagi2 rejeki dengan penduduk setempat. Biaya taxi Senggigi ke Bangsal Rp 70.000,- dan Biaya Cidomo Rp 30.000,-

Untuk menghindari kesulitan transport kembali ke Senggigi maka kami janjian agar driver taxi menjemput kami sorenya.

Perjalanan dengan Cidomo ke Pelabuhan Bangsal ternyata tidak terlalu jauh, tapi anak-anak senang juga bisa naik Cidomo.

Sesampai di Pelabuhan, kami langsung beli tiket resmi penyeberangan ke Gili Trawangan di Koperasi "Karya Bahari ". Biaya per orang Rp 12.500,-

Kami diberi tiket berwarna merah muda, untuk penanda antrian (antrian sebelumnya diberi warna kuning, jadi tidak bisa serobotan).  Setelah menunggu 30 menitan, semua penumpang dengan tiket warna merah muda boleh naik ke kapal. Karena yang kami naiki adalah public boat maka penumpangnya selain para wisatawan juga para pedagang dengan semua barangnya yang cukup banyak. Petugas kapal dengan sigap mengatur barang yang besar masuk duluan kemudian mempersilahkan para penumpang naik ke kapal, dan terakhir menaikkan sisa barang lainnya. Hati-hati ketika berjalan menuju kapal, karena sebagian kaki terendam air. Saya sempat kehilangan sandal karena kebawa arus air. Jadi lebih baik sandalnya dijinjing saja.

Perjalanan ke Gili Trawangan kurang lebih 30 menit. Sesampai di Gili Trawangan kami menuju ke loket untuk membeli tiket Glass Bottom Boat dan Snorkeling ke Gili Meno dan Gili Air. Biaya tiket Rp 100.000,- per orang. Kalau mau naik Glass Bottom Boat jangan kesiangan karena kapal hanya berangkat pukul 10.30 sampai 11.00.
Transportasi yang kami naiki hari ketiga- Cidomo (Dokar ala Lombok),
Berfoto di depan pelabuhan Bangsal, Public Boat yang penuh sesak,
dan glass bottom boat untuk snorkeling
Pukul 11.00 Glass Bottom Boat sudah terisi penumpang sekitar 30 orang. Kebanyakan penumpang turis asing, yang turis lokal termasuk kami ada 13 orang, kami sekeluarga 5 orang, 1 keluarga lagi dari Jakarta 4 org, dan 2 pasangan suami istri. Kapal mulai berangkat menuju perhentian (spot) yang pertama di tengah laut antara Gili Trawangan dan Gili Meno. Sebelumnya petugas membagikan alat snorkeling (kacamata , snorkle serta Life vest). Untuk sepatu katak (Fin) harusnya pinjam di kantornya sesuai ukuran S, M, L, tapi karena nggak diberitahu sebelumnya maka kami nggak pakai sepatu katak.

Di Spot yang pertama, kita bisa melihat ikan warna-warni dan terumbu karang. Yang tidak berenang bisa melihat di Glass Bottom. Waktu yang diberikan untuk spot yang pertama 30 menit.

Perjalanan dilanjutkan ke Spot yang kedua, yang merupakan spot yang tercantik. Guide menjelaskan prosedur untuk spot kedua ini yaitu Guide akan memimpin di depan dilanjutkan dengan penumpang lain yang mau ikut. Dijelaskan juga bahwa kapal tidak akan mengikuti kami seperti di spot yang pertama, jadi yang boleh ikut  harus benar-benar perenang yang handal karena jalur berenangnya lebih jauh. Di spot ini kita bisa melihat dari dekat Manta Rays dan Sea Turtle. Setelah instruksi tersebut, kami dan beberapa turis lokal memilih tidak ikut dan menunggu di kapal. Tapi ternyata Gita, anak bontot kami yang masih 8 tahun  malah ngotot ikut di Spot yang kedua itu. Kami sempat kawatir karena kami tidak bisa mendampingi (harus belajar renang dulu he...he...he...). Dengan nekad, Gita nyemplung ke laut mengikuti perenang lainnya yang lebih dewasa. Dan ternyata dia bisa menyelesaikan Spot kedua dengan baik. Meskipun sempat nangis karena kacamatanya copot dan nggak bisa lihat turtle. Wah, nggak rugi Gita ikut klub renang di Surabaya karena staminanya kuat untuk berenang di laut lepas he..he..he...

Setelah Spot kedua selesai, Guide menanyakan apakah lanjut ke Spot yang ketiga atau makan dahulu. Semua penumpang sepakat mengatakan FOOOOD!!.

Kapal merapat ke Gili Air untuk memberikan kesempatan para penumpang untuk makan siang. Makan siang ini bayar sendiri, tidak termasuk harga tour. Kami diantar ke salah satu restaurant di pinggir pantai. Suasana cukup nyaman, dapat melihat laut lepas.

Setelah makan siang, semua penumpang dipersilahkan untuk naik ke kapal. Acara dilanjutkan ke Spot yang ketiga. Sama seperti spot pertama di spot ini kita diberikan waktu 30 menit untuk snorkeling. Saya dan suami mencoba snorkeling di spot yang ketiga ini. Saya sempat panik di spot ini karena seperti kebawa arus air dan tidak bisa berenang. Gita si kecil menolong saya dengan membawa saya kembali ke pinggir kapal dengan ban yang dilempar dari kapal. Wah malu2in deh ....
Gita the rescuer dengan pelampung, Makan sate di restoran pinggir pantai di Gili Meno(foto kanan)

Setelah spot yang ketiga, kapal kembali ke Gili Trawangan.

Sampai di Gili Trawangan sudah pukul 15.30. Kalau mau keliling pulau kita dapat naik Cidomo atau sewa sepeda karena nggak ada kendaraan bermotor. Tarif Cidomo Rp 125.000,- dan Sewa sepeda Rp 30.000,-. Kami memutuskan untuk jalan-jalan saja sekitar pulau dan mampir di salah satu cafe untuk minum jus.
Gili Trawangan - Pergi ke salah satu cafe dan bermain di pantai

Sekitar pukul 16.30 kami menuju ke Loket untuk membeli tiket penyeberangan ke Pelabuhan Bangsal seharga Rp 10.000,-/orang. Sama seperti berangkatnya, public boat dipenuhi wisatawan dan para pedagang yang kembali ke Pelabuhan.

Sesampai di Pelabuhan, kami naik Cidomo lagi sampai ke ujung jalan. Sambil menanti taxi yang akan menjemput kami, banyak taxi lain yang menawari untuk mengantar kami. Ternyata tidak perlu kawatir tidak ada transport di Pelabuhan, karena ada banyak taxi didekat pangkalan Cidomo. Tak berapa lama taxi yang menjemput kami datang dan mengantar kami ke Senggigi. Rencananya kami mau mengejar Sunset di Malimbu, tapi kami kecewa karena langit mendung dan hujan mulai turun. Nggak jadi lihat sunset deh....
Akhirnya kami kembali ke Hotel. Biaya taxi Bangsal ke Senggigi Rp 75.000,-

(Lebih murah ongkos Taxinya, karena hari sebelumnya kami ditawari untuk diantar jemput oleh Driver taxi Pak Edi dengan harga Rp 250.000,- pp).

Malamnya karena hujan cukup deras, saya berdua dengan suami keluar hotel dan membeli makan malam untuk dibungkus di Cafe Tenda Pak Poer (jadi langganan nih). Menunya Fuyunghai, Tamie Capcay dan Nasi Goreng. Untuk minumnya ada STMJ dan Hot Tea.

Jumat, 15 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok day 2, Kebudayaan Lombok

Hari Kedua, 25 Desember 2012

Acara hari ini : Gereja Maria Immaculata Mataram, Pura Mayura, Kerajinan Tenun Sukarare, Desa Adat Sade, Pantai Kuta, Pura Lingsar, Toko Oleh2 Ria

Setelah Breakfast, jam 07.30 kami sudah siap dan dijemput Pak Edi, supir taxi yang mengantarkan kami ke bandara, menuju ke Mataram. Karena hari ini hari Natal maka acara pertama kami adalah ke Gereja Katolik Maria Immaculata Mataram. Ketika kami sampai di Gereja, Gereja sudah dijaga ketat oleh polisi. Umat sudah meluber sampai di pelataran Gereja. Kami beribadat di pelataran Gereja yang sudah dipasang tenda.Udara panas sekali. Karena Gita sudah rewel keringatan dan kepanasan akhirnya sebelum acara selesai kami sudah pulang.

Perjalanan kami lanjutkan ke Pura Mayure, Tiket Masuk Rp 5.000,-/orang. Masuk Pura, kami disambut oleh Guide yang memberi kami Selendang Kuning (lambang untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk) kemudian Guide menjelaskan asal-usul Pura. Konon Kata Mayura dalam bahasa Sansekerta yang berarti Burung Merak. Pura Mayura didirikan oleh Raja A.A Ngurah dari Karang asem Bali. Luas areanya cukup besar dan dikelilingi taman dan banyak pohon manggisnya, Di tengah bangunan ada Bale Kambang, Balai untuk musyawarah yang terletak di tengah danau. Ada 3 patung orang Cina dan 3 patung orang Arab membuktikan bahwa ada toleransi beragama sejak jaman dahulu kala. Dan ada Balai tunggu serta Pura Utama ada di area paling belakang. Tip guide Rp 30.000,-
Di depan bale untuk musyawarah dan ikon manggis di lantai
Acara berikutnya ke Kerajinan Tenun Sukarare. Di sini kita bisa mencoba bagaimana cara menenun kepada ibu-ibu yang sedang menenun di depan Galery Produk. Konon Gadis suku Sasak harus bisa menenun baru boleh menikah.

Guide menjelaskan kepada kami bagaimana proses menenun tenun songket yang dikerjakan oleh Ibu-ibu. Dan bagaimana proses membuat tenun ikat yang dikerjakan kaum pria. Mereka juga membuat Batik yang coraknya beda dengan batik yang ada di Jawa.
Searah jarum jam - pojok kiri- pembuatan pola tenun ikat, pengrajin mengerjakan tenun ikat,
alat untuk membuat tenun ikat, serta pengrajin batik
 

Di Gallery di tempat Kerajinan Tenun Sukarare juga ada kerajinan kayu seperti meja, papan catur, topeng, dll. Ada juga Lukisan yang dijual di lantai atas Gallerynya.
Akhirnya, kami membeli sebuah Tenunan untuk hiasan rumah bergambar Tokek sebagai lambang keberuntungan seharga Rp 500.000,-. Tip pengajar tenun Rp 10.000,-, Tip Guide Rp 20.000,-
Kerajinan kayu dan kain hasil tenun ikat dipajang di gallery

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Adat Sade. Menurut Guide,  Desa ini dihuni sekitar 700 orang. Proses perkawinan mereka antar saudara. Tata cara Nikahnya adalah kawin lari : Jika seorang pria naksir seorang perempuan, dan yang perempuannya mau, maka si pria boleh melarikan gadisnya dan setelah itu baru dinikahkan. Kalau menikah dengan suku lain mahal, mereka harus menyediakan 1 ekor sapi. Yang unik, lantai dirumah mereka dibersihkan 1 bulan sekali dengan dilapisi Tahi Kerbau. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah Petani, kerja sampingannya adalah menenun dan membuat kerajinan.

Di Desa ini kami membeli Gelang untuk oleh-oleh Rp 10.000/3 gelang. Tip Guide Rp 15.000,-
Kiri - Di depan rumah adat sade, Di dalam rumah mereka,
Gita bersama nenek yang sedang memintal benang
Dan gelang-gelang yang dijual di sana
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Kuta. Setelah makan siang di Are Guling Restaurant di Kuta, kami main di pantai Kuta dekat Novotel Hotel Kuta. Pantainya bersih dengan pasir putih seperti merica, bagus sekali.Sambil main, foto-foto dan anak-anak membuat istana pasir, kami membeli Kelapa Muda Rp 10.000/buah. Di sini banyak anak kecil yang memaksa agar membeli gelang yang mereka jual. Begitu satu anak kita beli barangnya, teman yang lain ikut memaksa kita untuk membeli. Wah, repot deh....
Pantai Kuta, Lombok - Membuat Istana Pasir

Pantai Kuta, dengan pasir merica dan view yang bagus :)

Acara dilanjutkan ke Pura Lingsar yang merupakan Pura terbesar di Lombok. Pura ini sebagai penanda kerukunan umat beragama. Sebelum Islam masuk Lombok, suku Sasak menganut Animisme dengan meyakini unsur magis mata air yang ada di Lingsar ini. Ajaran Islam masuk dengan ajaran Wetu Telu, ajaran yang disesuaikan dengan masyarakat Sasak yaitu bersembahyang 3 waktu bukan 5 waktu. Kemudian Masyarakat Bali membawa Agama Hindu masuk ke Lombok juga.

Dalam melestarikan sebuah mata air yang diakui dan diyakini oleh kedua umat sebagai sebuah kawasan sakral dan magis, sesuai dengan tradisi kultur dan keyakinan masing-masing umat, maka ada sebuah upacara “Perang Topat” oleh umat Sasak yang kegiatannya berlangsung dalam waktu dan tempat bersamaan dengan Upacara Odalan atau Pujawali yang dilakukan oleh Umat Hindu dan kedua umat dapat dengan hidmat melaksanakan upacaranya masing-masing.

Di dalam kompleks, ada Bapak yang menjual perhiasan mutiara air tawar. Anak-anak kami tertarik untuk membeli 1 gelang dan 2 kalung dengan harga total Rp 100.000,-.

Di depan pura, Make a wish dengan lempar koin membelakangi
kolam(pojok kiri), dan mutiara air tawar yang ditawarkan :)
Di luar kompleks ada banyak anak2 kecil yang menjual minyak nagasari (untuk obat gatal2) dengan agak memaksa. Sayang sekali, cukup mengganggu para wisatawan yang mengunjungi Pura tersebut.

Berikutnya kami ke Toko Oleh-Oleh Rayani yang berjualan mutiara. Dan di sebelahnya ada Toko Ria yang
menjual kain songket, tenun ikat, madu, dodol, dan kaos Lombok. Kami membeli beberapa kaos untuk oleh2.

Acara berikutnya makan malam. Kami mencari yang khas Lombok, yaitu Ayam Taliwang. Driver taxi mengajak kita ke sebuah restaurant yang katanya menjual ayam taliwang tapi sesampainya disana menu ayam taliwangnya habis. Maka kami berpindah ke restaurant Yeni Murad di Rembiga. Disini kami mencoba Ayam Bakar Taliwang, Plecing Kangkung, dan Bebalung (Bebalung ini juga khas Lombok, seperti Sop Buntut, tetapi bumbunya sedikit lain). Cukup enak.

Setelah makan malam kami kembali ke Hotel.

Selasa, 12 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok Day 1, Surabaya-Lombok

Hari Pertama, 24 Desember 2012

Pesawat yang menuju ke Lombok berangkat pukul 14.40 dan syukurlah on time.

Sesampai di Bandara Internasional Lombok pukul 16.30 waktu setempat, kami menuju ke Hotel di Senggigi dengan Taxi yang dipesan di Bandara  Rp 165.000,- (bandaranya cukup jauh : sekitar 1,5-2 jam ke Senggigi). Di perjalanan kami mampir ke Kerajinan Gerabah di Banyumulek. Di sana anak-anak senang sekali belajar membuat gerabah dan membeli hiasan dinding gerabah. Tip untuk pengajarnya Rp 10.000,-/org
Searah jarum jam - Pengajar sekaligus pengrajin gerabah
sedang memutar alat putar untuk membuat gerabah
dan hasil hasil kerajinan gerabah (kendi, vas, dsb.)

Sesampai di Hotel, kami pesan agar driver taxi kami ke bandara, Pak Edi, untuk menjemput kami besok pagi jam 7 dan booking untuk 1 hari. Deal Harga Rp 400.000,-

Masuk ke kamar yang kami pesan, ternyata kamarnya kecil dan terkesan belum direnovasi. TV masih model tabung dan AC menetes terus. Sempat diperbaiki oleh teknisi tapi besoknya AC bermasalah lagi.


Malamnya kami makan di Cafe Tenda Cak Poer Surabaya di dekat Hotel (jalan beberapa meter di sebelah kiri hotel ). Pemiliknya Orang Surabaya asli yang merantau ke Lombok. Menunya cukup bervariasi. Hari ini kami memesan Ikan Kakap Bakar dan Nasi Goreng.

Ikan bakar  dan Nasgor siap dimakan!

Pulangnya mampir ke Indomaret yang persis di sebelah kanan Hotel, untuk membeli camilan dan Aqua.

Jumat, 08 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok - Pendahuluan

Setelah mendengar dari teman papa kalau Lombok itu cantik sekali, maka Liburan Desember 2012 kemarin kami sekeluarga memutuskan untuk berwisata ke Lombok.

Bulan November saya mulai mencari tiket pesawat Surabaya ke Lombok dan mendapatkan tiket pesawat Citilink Surabaya-Lombok PP + bagasi 20 kg/org Rp 3.028.000,- untuk 5 orang. Untuk Hotel, rencana awal akan menginap 1 hari di Mataram dan 1 hari lagi di Gili Trawangan dan hari lainnya di Senggigi. Tapi mengingat cuaca Desember yang banyak hujannya maka kami memutuskan untuk menginap di Senggigi sehingga kalau menuju Gili Trawangan ataupun Mataram jaraknya cukup dekat dan dapat menunggu cuaca bersahabat.

Pemandangan Lombok dari dalam pesawat

Kami memesan The Santosa Villa and Resort, Lombok(Bintang 4) untuk 5 hari lewat KAHA Travel Rp 2.655.000,- (Harga Domestik, sehingga lebih murah lho daripada pesan lewat webnya Agoda yang sekitar 800rb-an/hari)