Jumat, 15 Februari 2013

Jalan Jalan ke Lombok day 2, Kebudayaan Lombok

Hari Kedua, 25 Desember 2012

Acara hari ini : Gereja Maria Immaculata Mataram, Pura Mayura, Kerajinan Tenun Sukarare, Desa Adat Sade, Pantai Kuta, Pura Lingsar, Toko Oleh2 Ria

Setelah Breakfast, jam 07.30 kami sudah siap dan dijemput Pak Edi, supir taxi yang mengantarkan kami ke bandara, menuju ke Mataram. Karena hari ini hari Natal maka acara pertama kami adalah ke Gereja Katolik Maria Immaculata Mataram. Ketika kami sampai di Gereja, Gereja sudah dijaga ketat oleh polisi. Umat sudah meluber sampai di pelataran Gereja. Kami beribadat di pelataran Gereja yang sudah dipasang tenda.Udara panas sekali. Karena Gita sudah rewel keringatan dan kepanasan akhirnya sebelum acara selesai kami sudah pulang.

Perjalanan kami lanjutkan ke Pura Mayure, Tiket Masuk Rp 5.000,-/orang. Masuk Pura, kami disambut oleh Guide yang memberi kami Selendang Kuning (lambang untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk) kemudian Guide menjelaskan asal-usul Pura. Konon Kata Mayura dalam bahasa Sansekerta yang berarti Burung Merak. Pura Mayura didirikan oleh Raja A.A Ngurah dari Karang asem Bali. Luas areanya cukup besar dan dikelilingi taman dan banyak pohon manggisnya, Di tengah bangunan ada Bale Kambang, Balai untuk musyawarah yang terletak di tengah danau. Ada 3 patung orang Cina dan 3 patung orang Arab membuktikan bahwa ada toleransi beragama sejak jaman dahulu kala. Dan ada Balai tunggu serta Pura Utama ada di area paling belakang. Tip guide Rp 30.000,-
Di depan bale untuk musyawarah dan ikon manggis di lantai
Acara berikutnya ke Kerajinan Tenun Sukarare. Di sini kita bisa mencoba bagaimana cara menenun kepada ibu-ibu yang sedang menenun di depan Galery Produk. Konon Gadis suku Sasak harus bisa menenun baru boleh menikah.

Guide menjelaskan kepada kami bagaimana proses menenun tenun songket yang dikerjakan oleh Ibu-ibu. Dan bagaimana proses membuat tenun ikat yang dikerjakan kaum pria. Mereka juga membuat Batik yang coraknya beda dengan batik yang ada di Jawa.
Searah jarum jam - pojok kiri- pembuatan pola tenun ikat, pengrajin mengerjakan tenun ikat,
alat untuk membuat tenun ikat, serta pengrajin batik
 

Di Gallery di tempat Kerajinan Tenun Sukarare juga ada kerajinan kayu seperti meja, papan catur, topeng, dll. Ada juga Lukisan yang dijual di lantai atas Gallerynya.
Akhirnya, kami membeli sebuah Tenunan untuk hiasan rumah bergambar Tokek sebagai lambang keberuntungan seharga Rp 500.000,-. Tip pengajar tenun Rp 10.000,-, Tip Guide Rp 20.000,-
Kerajinan kayu dan kain hasil tenun ikat dipajang di gallery

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Adat Sade. Menurut Guide,  Desa ini dihuni sekitar 700 orang. Proses perkawinan mereka antar saudara. Tata cara Nikahnya adalah kawin lari : Jika seorang pria naksir seorang perempuan, dan yang perempuannya mau, maka si pria boleh melarikan gadisnya dan setelah itu baru dinikahkan. Kalau menikah dengan suku lain mahal, mereka harus menyediakan 1 ekor sapi. Yang unik, lantai dirumah mereka dibersihkan 1 bulan sekali dengan dilapisi Tahi Kerbau. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah Petani, kerja sampingannya adalah menenun dan membuat kerajinan.

Di Desa ini kami membeli Gelang untuk oleh-oleh Rp 10.000/3 gelang. Tip Guide Rp 15.000,-
Kiri - Di depan rumah adat sade, Di dalam rumah mereka,
Gita bersama nenek yang sedang memintal benang
Dan gelang-gelang yang dijual di sana
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Kuta. Setelah makan siang di Are Guling Restaurant di Kuta, kami main di pantai Kuta dekat Novotel Hotel Kuta. Pantainya bersih dengan pasir putih seperti merica, bagus sekali.Sambil main, foto-foto dan anak-anak membuat istana pasir, kami membeli Kelapa Muda Rp 10.000/buah. Di sini banyak anak kecil yang memaksa agar membeli gelang yang mereka jual. Begitu satu anak kita beli barangnya, teman yang lain ikut memaksa kita untuk membeli. Wah, repot deh....
Pantai Kuta, Lombok - Membuat Istana Pasir

Pantai Kuta, dengan pasir merica dan view yang bagus :)

Acara dilanjutkan ke Pura Lingsar yang merupakan Pura terbesar di Lombok. Pura ini sebagai penanda kerukunan umat beragama. Sebelum Islam masuk Lombok, suku Sasak menganut Animisme dengan meyakini unsur magis mata air yang ada di Lingsar ini. Ajaran Islam masuk dengan ajaran Wetu Telu, ajaran yang disesuaikan dengan masyarakat Sasak yaitu bersembahyang 3 waktu bukan 5 waktu. Kemudian Masyarakat Bali membawa Agama Hindu masuk ke Lombok juga.

Dalam melestarikan sebuah mata air yang diakui dan diyakini oleh kedua umat sebagai sebuah kawasan sakral dan magis, sesuai dengan tradisi kultur dan keyakinan masing-masing umat, maka ada sebuah upacara “Perang Topat” oleh umat Sasak yang kegiatannya berlangsung dalam waktu dan tempat bersamaan dengan Upacara Odalan atau Pujawali yang dilakukan oleh Umat Hindu dan kedua umat dapat dengan hidmat melaksanakan upacaranya masing-masing.

Di dalam kompleks, ada Bapak yang menjual perhiasan mutiara air tawar. Anak-anak kami tertarik untuk membeli 1 gelang dan 2 kalung dengan harga total Rp 100.000,-.

Di depan pura, Make a wish dengan lempar koin membelakangi
kolam(pojok kiri), dan mutiara air tawar yang ditawarkan :)
Di luar kompleks ada banyak anak2 kecil yang menjual minyak nagasari (untuk obat gatal2) dengan agak memaksa. Sayang sekali, cukup mengganggu para wisatawan yang mengunjungi Pura tersebut.

Berikutnya kami ke Toko Oleh-Oleh Rayani yang berjualan mutiara. Dan di sebelahnya ada Toko Ria yang
menjual kain songket, tenun ikat, madu, dodol, dan kaos Lombok. Kami membeli beberapa kaos untuk oleh2.

Acara berikutnya makan malam. Kami mencari yang khas Lombok, yaitu Ayam Taliwang. Driver taxi mengajak kita ke sebuah restaurant yang katanya menjual ayam taliwang tapi sesampainya disana menu ayam taliwangnya habis. Maka kami berpindah ke restaurant Yeni Murad di Rembiga. Disini kami mencoba Ayam Bakar Taliwang, Plecing Kangkung, dan Bebalung (Bebalung ini juga khas Lombok, seperti Sop Buntut, tetapi bumbunya sedikit lain). Cukup enak.

Setelah makan malam kami kembali ke Hotel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar