Senin, 10 Juli 2017

Jalan Jalan ke Banyuwangi Day 4 : Keindahan bawah laut di Bangsring

Tanggal 29 Desember 2016, Hari keempat kami di Banyuwangi. Hari ini adalah hari terakhir kami di Banyuwangi. Karena hari sebelumnya kami mendaki gunung dan merasakan sedikit pantai, hari terakhir ini kami mengunjungi Pantai Bangsring. Di sini ada yang berbeda dari pantai-pantai biasanya, yaitu adanya Rumah Apung Bangsring. Rumah Apung Bangsring, yang merupakan bagian dari wisata Bangsring Under Water ini berdiri di atas laut, di mana kami harus menyeberang ke sana menggunakan kapal. Sebelum menyeberang, karena ingin snorkeling, kami pun menyewa peralatan snorkeling di tempat persewaan dekat pintu masuk pantai. Setelah mendapat peralatan snorkeling , kami pun menyeberang ke rumah apung tersebut.

Pemandangan dari Rumah Apung

Di rumah apung ini ternyata ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah snorkeling. Turun dari rumah apung, ada tangga untuk nyemplung ke laut. Ada pemandu yang membawa kami menuju ke tempat-tempat underwater untuk melihat terumbu karang, ikan nemo dan ikan-ikan lainnya serta bisa membantu mengambil foto dalam air (pakai kamera pocket kami yang kebetulan bisa untuk underwater).


Snorkeling
Yayy ketemu nemo alias clownfish!

Setelah kira-kira setengah jam di bawah laut, kami pun naik lagi ke rumah apung. Selain snorkeling, kami bisa juga memberi makan ikan dengan pakan ikan yang dijual di sana. 2 orang dari keluarga kami berenang bersama anak-anak hiu yang berada di sebuah bak/keramba. Ternyata menurut anak-anak kami yang 2 orang tersebut, pengalaman berenang bersama ikan hiu anakan menegangkan, tetapi seru. Ada juga foto anakan hiu yang diambil oleh pemandu yang ikut membantu anak-anak kami masuk ke keramba tersebut.
Anakan hiu di keramba
Setelah puas melakukan aktivitas-aktivitas di atas, kami pun menyeberang kembali ke pantai Bangsring dan mandi-mandi . Mengunjungi pantai tidak lengkap kalau tidak minum kelapa muda. Akhirnya kami pun membeli satu kelapa muda untuk ramai-ramai minum. Segar!

Perjalanan di Banyuwangi sudah selesai. Karena kami selama di Banyuwangi menyewa mobil, kembali ke Surabaya juga menggunakan mobil van yang muat 11 orang. Karena membawa orang tua dan barang-barang dan kami cuma berenam, maka mobil van ini terasa luasss sekali.

Sampai jumpa Banyuwangi. See you on the next adventure!

Minggu, 07 Mei 2017

Jalan Jalan ke Banyuwangi Day 3 : Indahnya Kawah Ijen dan Petualangan di Taman Nasional Baluran

Hari ketiga dimulai pagi pagi sekali setelah midnight untuk mendaki gunung Ijen dengan tujuan : Kawah Ijen :) Kawah Ijen terkenal akan keindahannya dan terutama Blue Fire yang konon hanya ada 2 di dunia. 

Untuk persiapan ke Kawah Ijen :
Baju hangat (bisa kaos lengan panjang), Celana panjang tebal atau celana training,  Jaket tebal, Sepatu Olahraga atau Sandal Gunung dan Kaos kaki tebal, Topi kupluk, Syal dan kaos tangan, serta Masker dan Oxican. Tidak lupa air mineral dan roti secukupnya untuk bekal.

Pukul 23.30 hari sebelumnya  kami sudah berangkat menuju Kawah Ijen. Perjalanan sekitar 1 jam dari Hotel Santika.
Sesampai di Ijen, Pak Adit mencarikan guide untuk mengantar kami.
Jasa Guide Rp 50.000,- per orang.
Tiket Kawah Ijen : Mobil Rp 10.000,- dan Tiket Pengunjung Rp 8.000,-

Sekitar Pukul 1 dini hari kami memulai perjalanan di area yang masih gelap. Kami beruntung karena hari itu, di mana kami akan mendaki gunung, tidak hujan. Guide kami Pak Arif memandu kami dengan lampu senter di kepala dan 1 senter tangan yang dibawa oleh salah satu dari kami. Karena kami tidak biasa naik gunung, kami jalan pelan-pelan dan kalau capek istirahat sebentar.
Jalan yang dilalui ada yang landai dan ada yang menanjak. Pak Arif selalu memberi semangat kepada kami pada waktu di tanjakan. “ Hanya 200 meter tanjakannya “ katanya. Dan Pak Arif juga memperingati kami jika disebelah kanan ada jurang, kami diminta untuk berjalan di sisi kiri jalan.

Dengan semangat tersebut akhirnya kami melampaui beberapa pos perhentian. Semakin mendekati kawah hawa belerang makin kuat sehingga masker mulai dipakai. Oksigen yang kami bawa juga kami pakai karena sudah mulai susah bernapas. Karena asap juga mulai banyak, Pak Arif meminjami kami Masker asap (di dalam masker ada semacam filter arang untuk mengurangi efek asap belerang).

Masker asap supaya tidak terkena asap belerang
Di Pos perhentian yang terakhir ada warung yang dapat kami pakai beristirahat. Makan mie instan cup berinisial P dan roti yang kami beli di warung sebelum mendaki.
Saran saya sebaiknya jangan istirahat terlalu lama karena makin terasa capeknya.
Perjalanan kami lanjutkan dan sampai di atas kawah sekitar Pukul 03.00 pagi.
Bagi yang mau mendekati kawah bisa jalan lagi turun ke kawah tapi jalannya agak terjal dan bau belerangnya semakin kuat.

Kami memilih melihat Blue Fire di atas kawah. Tapi karena cuaca agak berawan dan banyak kilatan lampu Camera pengunjung yang mengambil foto di bawah kawah, blue fire hanya terlihat sedikit..
Ini dia hasilnya.
Blue Fire dari kejauhan
Pelan-pelan langit berubah merah dan akhirnya terang.

Wah sungguh indah sekali.
Kawah Ijen

Selebrasi naik gunung
Kecapekan kami mendaki kawah setinggi 2799 m di atas permukaan laut ini terbayar sudah dengan pemandangan yang sungguh mengagumkan ini.

Wah sungguh indah!

Mejeng dulu di Kawah Ijen
Pelan- pelan hawa belerang juga mulai hilang. Tapi kami malah jadi kedinginan.
Setelah puas berfoto-foto. Kami memutuskan untuk pulang.
Perjalanan kali ini menurun. Sering kami terpeleset karena jalannya berpasir. Pak Arif menjelaskan bahwa kalau musim kemarau malah pasirnya beterbangan dan membuat mata pedih.
Karena hari sudah terang, kami bisa melihat jalan yang kami lalui pagi buta tadi dengan lebih jelas. Pemandangan sangat indah. Kami bisa melihat Pos perhentian,  jurang yang kami lalui dan jalan terjalnya.

Di pertengahan jalan, kami diikuti oleh para penambang yang membawa kereta kosong. Mereka menawari kami untuk naik ke keretanya. Kereta ini bentuknya seperti gerobak, ya memang aslinya gerobak untuk mengangkut belerang. Tapi lebih enak disebut kereta saja hahaha. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta tersebut.

Capek turun gunung, akhirnya naik kereta (alias gerobak)

Harga kereta Rp 100.000,- kalau dari atas kawah. Tapi karena sudah di pertengahan jalan ditawarkan Rp 50.000,- per kereta.
Pada waktu naik gunung pagi buta tadi juga ada yang menggunakan jasa kereta seharga Rp 400.000,- untuk sekali naik (kalau naik agak berat dan menanjak sehingga kereta harus ditarik oleh 3 atau 4 orang) atau Rp 600.000,- untuk naik dan turunnya. Kebanyakan orang yang sudah tua yang menggunakan jasa kereta tersebut.

Di kereta tersebut ternyata ada remnya sehingga aman. Dan kereta tersebut didesain untuk mengangkut berton-ton belerang sehingga cukup kuat bagi kami.

Ternyata enak juga naik kereta. Kurang lebih setengah jam kami sudah sampai di Parkiran mobil. Wah kalau kami jalan kaki dan sebentar-sebentar istirahat bisa 1,5 jam baru sampai parkiran he..he..he.. Kami cepat-cepat ngantri di toilet karena sudah tidak betah, di atas gunung sama sekali tidak ada toilet.
Jadi tips kami :
Ke toilet sebelum naik gunung dan setelah turun gunung.

Kami berterima kasih kepada Pak Arif yang dengan sabar memandu kami serta menanyakan No.Hpnya (HP Pak Arif 085212465228).

Kami kembali ke mobil dan Pak Adit mengantar kami ke Hotel untuk beristirahat dan makan pagi. Jam 14.00 kami berangkat lagi untuk makan siang. Makan siang kami di Rawon Bik Ati 2 di Ketapang. Lumayan enak…

Perjalanan kami lanjutkan ke Taman Nasional Baluran. Jalan kesana ternyata juga berbatu-batu. Sungguh tidak enak rasanya. Apalagi sudah kecapekan dari Ijen tadi pagi.

Atas : Taman Nasional Baluran
Bawah : Pantai Bama


Dan ternyata sampai disana kami tidak melihat satupun binatang kecuali kera. Mungkin karena hujan kemarin binatang pada sembunyi semua ya..
Wah rugi deh…
Setelah berfoto-foto sebentar kami memutuskan untuk kembali ke Banyuwangi dan melewati jalan berbatu lagi…. Capek deh…

Setelah itu makan malam Nasi tempong lagi tapi di depot yang lain. Kami kembali ke hotel.

Nasi Tempong dari Day 2

Rabu, 05 April 2017

Jalan Jalan ke Banyuwangi Day 2 : Alas Purwo dan Kelezatan Nasi Tempong

Tgl 27 Desember 2016, Hari ini rencana kami ke Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Ngagelan dan Pantai G Land. Rencananya sih begitu. Tetapi kenyataannya cuma terealisasi ke Alas Purwonya saja hehe.. Untuk tahu kenapa silahkan baca ceritanya di bawah ini :)

Setelah makan pagi dan check out Hotel, kami menuju ke Taman Nasional Alas Purwo. Jalan kesana ternyata juga tidak mulus karena seharusnya ada jembatan untuk menuju Alas Purwo tapi sedang dalam perbaikan sehingga kita melewati jalan Perhutani yang masih berbatuan. Perjalanan sekitar 3 jam untuk sampai ke Alas Purwo itu sendiri.
Menuju ke Alas Purwo

Tiket Masuk Taman Nasional Alas Purwo : Mobil Rp 10.000, -  Pengunjung Rp 5.000,-

Sampai di Alas Purwo hari sudah siang. Kami menuju Savana Sadegan untuk melihat satwa liar.
Savana Sadengan
Kami dipinjami teropong atau bahasa kerennya binocular, oleh Petugas dan naik ke Menara Pantau di lantai 3,  tetapi yang terlihat hanya kumpulan kerbau.
Sedang mengamati kerbau
 Petugas menyarankan agar datang sore hari karena siang hari binatangnya masuk ke hutan karena sudah banyak makanan di dalam hutan. Saat terbaik untuk ke Savana adalah musim kemarau yaitu bulan Juni-Agustus karena banyak binatang keluar mencari makanan. Kami juga menjumpai beberapa mahasiswa Kedokteran Hewan yang tinggal di Mess Alas Purwo karena ada tugas memantau binatang liar.
Melihat beberapa mahasiswa yang sedang studi lapangan
Sambil ngobrol, Petugas menyampaikan bahwa baru saja ada banteng yang mati dimangsa segerombolan anjing hutan. Dan petugas menunjukkan videonya lewat hpnya.
Berikutnya kami berfoto-foto sebentar.



Setelah puas di Alas Purwo perjalanan dilanjutkan ke Taman Nasional Meru Betiri.
Tiket Masuk TN Meru Betiri : Mobil Rp 10.000,-  Pengunjung  Rp 7.500,-

Tujuan kami adalah ke Pantai Ngagelan untuk melihat penangkaran Penyu dan melepas tukik.
Tapi sekali lagi karena angin yang kencang, tempat penangkaran penyu hancur diterpa angin dan penyu-penyunya dilepas ke pantai oleh Petugas.
Wah kecewa deh…

Karena tujuan kami berikutnya ke pantai G land, kami tanyakan juga ke Petugas.
Petugas menyampaikan bahwa ke Pantai G Land harus naik Jeep yang disediakan oleh pengelola dengan biaya Rp 600.000,- dan sepertinya sedang tidak bagus cuacanya karena angin kencang kemarin. Sehingga semua sampah dari tengah laut terbawa ke tepian.
Wah kecewa 2x deh…


Akhirnya kami memilih membatalkan acara dan menuju ke Hotel Santika. Hotel Santika adalah hotel yang cukup baru di Banyuwangi. Kamarnya cukup luas dan juga ada kolam renang di Hotel. Sesampai di Hotel Santika hujan deras turun. Kami beristirahat sebentar di kamar, kemudian setelah agak cerah anak-anak berenang di hotel.

Jam 7 malam kami makan malam di  Nasi Tempong Banyuwangi. Tempatnya agak masuk ke gang alias ndelesep dan menunya bisa pilih sendiri. Walaupun tempatnya ndelesep masuk gang, ternyata rasanya enak, top cer. Berikut penampakannya :


Nasi Tempong


Setelah makan, untuk persiapan ke kawah ijen malam itu kami membeli Oksigen Portable di sebuah apotik, merknya Oxican. Hanya tersisa 4 buah dengan harga total Rp 158.400,-.

Kami beristirahat lebih awal. Karena malamnya kami berencana ke Kawah Ijen.

Selasa, 21 Februari 2017

Jalan Jalan ke Banyuwangi Day 1 : Trekking ke Teluk Hijau dan Sunset di Pantai Pulau Merah

25 Desember 2016 kami berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 22.00. Perjalanan sekitar 6 jam.
Dan sampai di Banyuwangi keesokan harinya pukul 04.00 pagi.
Kami janjian dengan Driver, Pak Adit namanya, untuk dijemput di Stasiun Kalisetail Banyuwangi tetapi karena ada miskomunikasi dengan petugas kereta api akhirnya kami turun di Stasiun Temuguruh.
Untungnya Stasiun Temuguruh hanya berjarak 15 menit berkendara dari Stasiun Kalisetail.

Oleh Pak Adit kami diantar ke Hotel Mahkota untuk beristirahat sebentar dan mandi serta sarapan pagi.

Menu sarapan hari pertama di Banyuwangi sederhana tapi cukup enak. Yaitu Nasi, Cap Cay dan Tahu Isi. Setelah sarapan, sekitar pukul 08.00 kami mulai wisata kami ke Pantai Rajegwesi, Teluk Ijo dan Pulau Merah. Perjalanan ke Pantai Rajegwesi sekitar 2 jam dan melewati hutan jati dan hutan pinus yang indah milik Perhutani. Tapi untuk jalan yang dilewati sungguh menyiksa karena berbatu-batu. Dan kami hanya naik mobil Avanza yang seharusnya bukan untuk Off Road.

Ada 2 pilihan untuk mencapai Teluk Hijau. Pertama, naik kapal nelayan. Kedua, trekking. Karena pilihan pertama lebih mudah terutama karena ada orang tua, kami memilih pilihan pertama. Tapi situasi dan cuaca tidak seperti yang diharapkan.

Tiba di Pantai Rajegwesi seharusnya kami naik kapal menuju ke Teluk Hijau. Tetapi karena hari itu angin kencang maka semua nelayan tidak berani berlayar.

Pak Adit akhirnya mengantar kami ke pintu masuk trekking dengan mobilnya.
Di sana kami beristirahat sebentar di warung diatas bukit.  Dan membuat foto dari atas bukit.  Ternyata di dekat warung itu ada plang yang bertuliskan Teluk Damai. Ya, dan akhirnya kami mengambil foto kami berdiri di depan keindahan alam ini. Hasilnya cukup bagus.
Teluk Damai
Setelah itu kami mulai trekking menuju Teluk Hijau. Karena tidak ada persiapan trekking, kami hanya menggunakan sandal jepit yang tidak nyaman kalau harus jalan di bebatuan. Anak kami Tasia malah mencopot sandalnya untuk trekking karena pakai sandal yang agak tinggi.
Karena medan trekkingnya cukup terjal akhirnya kami hanya sampai di Pantai Batu.
Pantai Batu
Pantai Batu with Family

Pemandangan dari pintu masuk sebelum trekking

Dan kamipun kembali ke Pintu masuk awal. Disana kami bertemu seorang Ibu yang menemani Mama diwarung karena Ibu itu enggan trekking ke Teluk Ijo dan memilih menunggu keluarganya di warung tsb. Dari Ibu tersebut kami diberitahu ada wisata baru yang cukup bagus di daerah sana yaitu Wisata Pohon Pinus di Songgon. Tetapi karena tidak ada dalam jadwal kami, maka kami masukkan ke wish list saja.
Wisata Pohon Pinus Songgon
diambil dari : travel.detik.com

Perjalanan diteruskan untuk makan siang. Makan siang kami di dekat Pantai Rajegwesi dengan menu Ikan Bakar dan Lalapan serta Degan. Wah enak sekali dan ada wifinya lho. Sayang kami lupa nama depotnya… Walaupun lupa nama depotnya tapi masih ada fotonya di bawah ini :)

Depot yang lupa namanya apa.
Ada gazebo buat makan makan di tepi pantai

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pantai Pulau Merah sekitar 1,5 jam.
Tiket Masuk Pulo Merah : Mobil Rp 5.000, Pengunjung 8.000

Sampai di Pulau Merah masih pukul setengah 4. Sambil menunggu Sunset, kami menikmati pantai dan menyewa 1 kursi pantai dengan harga Rp 20.000,- per jam kemudian berfoto-foto, serta makan bakso dan minum degan.
Pantai Pulau Merah

Si kecil di Pantai Pulau Merah

Sunset di Pantai Pulau Merah
Bergaya di depan Sunset Pantai Pulau Merah

Berdua di Pantai Pulau Merah
Dalam perjalanan pulang dari Pulau Merah, kami makan malam di Lesehan Rindu di Jl. A.Yani (Depan KUA Jajag) Restorannya rame sekali. Saya kira akan lama pelayanannya, ternyata cepat sekali penyajiannya, enak dan murah.

Minggu, 19 Februari 2017

Jalan Jalan ke Banyuwangi - Petualangan Bulan Desember

Sudah sejak akhir 2015 kami merencanakan untuk pergi ke Banyuwangi. Tapi karena musim hujan kami merasa bukan saat yang tepat untuk jalan-jalan. Tetapi Desember 2016, kami memutuskan berangkat saja ke Banyuwangi tanpa target apapun hanya untuk refreshing saja. Kami berangkat berenam: saya, suami, ketiga anak kami dan Mama.

Kami memesan tiket berangkat dengan kereta api Mutiara Timur Malam Eksekutif  Surabaya- Banyuwangi dengan biaya Rp 235.000,- per orang. Agak kemahalan karena pesan tiketnya mepet harinya.

Untuk transportasi kami memakai Rental mobil harian  + driver dengan Pak Adit (081357288268) dengan biaya Rp 500.000,- untuk 24 jam dan Rp 400.000,- untuk 12 jam.

Untuk Hotel kami memesan 2 Hotel :
Hotel Mahkota, Rp 250.000,-/hari untuk 1hari di Genteng, Banyuwangi, karena cukup dekat dengan Pulau Merah dan Teluk Hijau di Banyuwangi Selatan.
Hotel Santika, Rp 620.000,-/hari untuk 2 hari, yang kami pesan lewat KAHA travel agar dekat dengan wisata Banyuwangi Utara termasuk ke Kawah Ijen.